Jujur, sampai detik ini aku masih sering terbangun tengah malam cuma buat ngecek pintu belakang rumah sudah terkunci atau belum. Kadang aku merasa ada bau tanah basah yang masuk ke kamar, padahal jendela tertutup rapat. Kejadian ini sudah lewat setahun, tapi rasanya masih menempel di pori-pori kulitku. Kalau kalian main ke daerah lereng Lawu, mungkin kalian bakal kagum sama pemandangannya, tapi ada satu hal yang harus kalian ingat: jangan pernah main-main sama apa yang sudah dianggap "selesai" oleh orang tua di sana.
Sore yang Tenang di Kaki Gunung
Waktu itu bulan Agustus, pas lagi dingin-dinginnya. Aku pulang ke desa karena Bapak lagi sakit-sakitan. Namanya Desa Wukirharjo, sebuah desa yang kalau malam itu senyapnya minta ampun, cuma kedengaran suara jangkrik sama gesekan daun bambu.
Sore itu, sekitar jam lima, aku lagi duduk di teras sambil menyesap teh tubruk. Bapak keluar dari kamar, jalannya diseret karena stroke ringan. Beliau duduk di sebelahku, matanya natap lurus ke arah kebun belakang yang berbatasan langsung sama hutan jati.
"Yan, besok kalau Bapak sudah nggak ada, tolong jangan pernah tebang pohon beringin di pojok kebun itu ya," kata Bapak tiba-tiba. Suaranya serak, matanya nggak berkedip.
Aku cuma ketawa kecil. "Ya ampun, Pak. Kenapa mikirnya ke sana? Lagi pula pohon itu kan sudah mati, lapuk. Kalau roboh malah bahaya kena dapur."
Bapak nengok ke aku. Tatapannya beda, ada rasa takut yang belum pernah aku lihat sebelumnya. "Itu bukan pohon biasa. Itu tetenger (penanda). Ada yang dikubur di bawah akarnya, bukan mayat, tapi janji."
Aku nggak ambil pusing. Aku pikir itu cuma takhayul orang tua yang sudah pikun.
Awal Keganjilan
Malam harinya, Bapak tidur lebih awal. Aku masih di ruang tengah, main HP sambil sesekali dengerin suara angin yang makin kencang. Sekitar jam satu pagi, aku dengar suara "tek... tek... tek..." dari arah dapur.
Awalnya aku pikir itu suara tikus atau air kran yang bocor. Aku jalan ke dapur, tapi suaranya berhenti. Begitu aku balik ke ruang tengah, suaranya ada lagi. Kali ini lebih jelas, kayak suara kuku yang ngetuk-ngetuk kayu meja makan.
Aku beranikan diri nyalain lampu dapur. Kosong. Tapi, di atas meja makan, ada segenggam tanah basah yang masih bau kemenyan dan melati busuk. Jantungku mulai deg-degan. Dari mana tanah ini? Atap rumahku nggak bocor, dan pintunya terkunci semua.
Besok malamnya, keadaan makin aneh. Pas aku lagi mandi, aku dengar suara perempuan bisik-bisik di luar pintu kamar mandi. Suaranya halus banget, pakai bahasa Jawa halus yang sangat kuno.
"Sampun titi wancinipun... Sampun titi wancinipun..." (Sudah waktunya... Sudah waktunya...)
Aku buru-buru pakai handuk dan buka pintu. Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada jejak kaki berlumpur yang mengarah dari pintu belakang, lewat depan kamar mandi, terus berhenti tepat di depan kamar Bapak yang terkunci.
Malam yang Mencekam
Puncaknya terjadi di malam Jumat Kliwon. Angin di luar nggak cuma kencang, tapi menderu-deru kayak suara orang nangis. Listrik di desa tiba-tiba mati total. Gelapnya luar biasa, tipikal desa di gunung yang kalau lampu mati, kamu nggak bisa lihat telapak tanganmu sendiri.
Aku nyalain lilin dan niatnya mau cek Bapak. Tapi pas aku lewat ruang tengah, aku lihat pintu belakang yang tadinya aku kunci rapat, sekarang terbuka lebar. Angin dingin masuk ke dalam rumah, bawa bau busuk yang menyengat—campuran antara bangkai dan bau tanah kuburan.
Aku jalan ke arah pintu belakang buat menutupnya. Tapi langkahku terhenti.
Di bawah sinar bulan yang remang-remang, aku lihat ada sosok berdiri di dekat pohon beringin mati itu. Sosoknya tinggi, kurus banget, rambutnya panjang menjuntai sampai ke tanah. Dia nggak membelakangiku, dia menghadap ke arahku.
Wajahnya nggak jelas, tapi matanya... matanya bersinar putih pucat. Dia nggak napak di tanah. Tangannya yang panjang dengan kuku hitam merayap di batang pohon beringin itu. Dia kayak lagi nyari sesuatu di akar pohonnya.
"Yan... tolong, Yan..."
Suara Bapak! Suaranya datang dari arah pohon itu, bukan dari dalam kamar.
Aku lari ke luar, lupa sama rasa takut karena mikir Bapak dibawa sama "benda" itu. Begitu aku sampai di dekat pohon, sosok itu hilang secepat kedipan mata. Yang ada cuma Bapak, duduk bersimpuh di akar pohon beringin sambil menggali tanah pakai tangan kosong sampai kuku-kukunya berdarah.
"Pak! Bapak ngapain?!" aku teriak sambil memegang bahu beliau.
Bapak nengok ke arahku. Wajahnya bukan wajah Bapak. Kulitnya pucat, matanya kosong, dan mulutnya terus-menerus mengunyah tanah.
"Janji harus ditepati, Yan... Kakekmu dulu tukar nyawa buat tanah ini... sekarang mereka minta bayarannya..."
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki kami bergetar. Dari dalam akar pohon yang sudah lapuk itu, muncul tangan-tangan hitam yang kecil, kayak tangan anak bayi tapi jumlahnya puluhan. Tangan-tangan itu mulai narik sarung Bapak, narik kaki beliau ke dalam tanah yang mendadak jadi lembek kayak rawa.
Aku tarik tangan Bapak sekuat tenaga. Aku teriak minta tolong, tapi suaraku kayak hilang ditelan angin. Dalam kegelapan itu, aku dengar suara tawa cekikikan dari atas pohon beringin. Pas aku dongak ke atas, ada belasan sosok yang tadi aku lihat di pintu belakang, semuanya lagi bergelantungan di dahan-dahan mati, natap aku sambil tersenyum lebar sampai merobek pipi mereka.
Sesuatu yang Belum Selesai
Aku nggak ingat gimana caranya aku bisa selamat. Kata tetangga, mereka nemuin aku pingsan di bawah pohon beringin itu pas subuh. Bapak? Bapak masih ada, tapi sejak malam itu beliau nggak pernah bicara lagi. Beliau cuma duduk diam di kursi roda, matanya selalu natap ke arah pohon beringin itu dengan penuh ketakutan.
Seminggu kemudian, aku nekat manggil orang buat tebang pohon beringin itu. Aku sudah nggak tahan. Tapi nggak ada satu pun tukang sensor di desa ini yang berani. Mereka bilang, "Itu bukan pohon, itu rumah. Kalau rumahnya dihancurkan, penghuninya mau pindah ke mana? Ke badan kamu?"
Akhirnya pohon itu tetap di sana.
Malam tadi, aku terbangun lagi. Aku dengar suara cakaran di bawah tempat tidurku. Suaranya pelan, tapi jelas banget: Sreek... sreek... sreek...
Pas aku beranikan diri buat melongok ke bawah kasur pakai senter HP, aku nggak nemuin apa-apa. Cuma ada gundukan tanah kecil yang masih basah. Dan di atas tanah itu, ada sepotong kain kafan tua yang sudah cokelat terkena lumpur.
Sepertinya, apa pun yang ada di bawah pohon itu sekarang sudah nggak tinggal di sana lagi. Mereka sudah masuk ke dalam rumah.
Apakah kamu pernah merasa ada yang memperhatikanmu dari sudut ruangan yang gelap, padahal kamu yakin kamu sendirian di rumah? Coba cek di bawah tempat tidurmu sekarang, siapa tahu ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar