Jempol kakiku sudah mati rasa sejak satu jam yang lalu. Sandal gunung yang kupakai ternyata nggak cukup kuat menahan rembesan air dari tanah hutan yang beceknya minta ampun. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Pilihannya cuma dua: terus jalan atau berhenti dan risiko kedinginan di tengah jalur pendakian yang—jujur saja—aku sendiri sudah tidak yakin ini masih di jalur yang benar.
Hutan di lereng gunung ini, kalau boleh aku bilang, punya karakter yang aneh. Sejak masuk lewat gerbang desa tadi pagi, rasanya ada yang beda. Biasanya kalau naik gunung, makin tinggi kita mendaki, makin riuh suara serangga. Tapi di sini? Sepi. Sepi yang bikin telinga berdenging.
"Wan, lu ngerasa nggak sih? Ini udah jam empat sore tapi gelapnya kayak udah jam enam lewat," kataku, mencoba memecah kesunyian yang mulai terasa menekan dada.
Iwan, yang jalan dua meter di depanku, nggak langsung jawab. Dia cuma berhenti sebentar, mengatur napasnya yang kedengaran berat banget. Dia menoleh, mukanya pucat, keringat dingin bercampur air hujan membasahi pelipisnya.
"Mungkin karena tajuk pohonnya terlalu rapat, Di," jawabnya pendek. Dia nggak menatap mataku. Pandangannya malah liar ke arah semak-semak di sisi kiri kami.
"Lu denger sesuatu?" tanyaku lagi.
"Enggak. Justru karena gue nggak denger apa-apa itu yang aneh. Burung-burung pada ke mana, ya?"
Aku menarik napas panjang. Bau tanah di sini tajam sekali. Bukan bau tanah basah yang segar seperti habis hujan di kota, tapi lebih ke arah bau busuk yang samar. Seperti ada sesuatu yang mati, tapi sudah lama sekali dan menyatu dengan lumut.
Kami terus berjalan. Tapi anehnya, jalan setapak yang tadinya jelas, sekarang mulai tertutup akar-akar raksasa yang melintang. Aku sempat berpikir, apa kami salah ambil percabangan di dekat pohon kiara besar tadi? Tapi seingatku, di peta yang diberikan kakek penjaga pos di bawah, jalurnya lurus saja.
"Tunggu, Wan." Aku memegang bahu Iwan.
"Apa lagi?" Suaranya agak meninggi, ada nada panik yang mulai bocor di sana.
"Kita udah ngelewatin batu ini tiga kali." Aku menunjuk sebuah batu besar yang permukaannya tertutup lumut merah. Aku tahu itu batu yang sama karena ada bekas goresan pisau di sudutnya—bekas yang aku buat secara iseng waktu lewat pertama kali tadi.
Iwan terdiam. Dia melihat batu itu, lalu melihat ke sekeliling. "Nggak mungkin. Kita jalan lurus terus, Di. Gue nggak ngerasa kita muter balik."
"Tapi kenyataannya ini batunya, Wan."
Kami berdua berdiri di sana, di tengah remang-remang hutan yang makin gelap. Angin tiba-tiba berhembus, tapi tidak dingin. Rasanya justru hangat, seperti napas seseorang yang ditiupkan ke tengkukku. Aku merinding hebat. Bukan karena takut setan seperti di film-film, tapi karena rasanya ada logika yang patah di sini.
"Kita buka tenda di sini aja," kata Iwan tiba-tiba. Suaranya gemetar.
"Di sini? Jalurnya miring begini, Wan. Lagian ini belum sampai puncak bayangan."
"Gue nggak peduli. Gue nggak mau jalan lagi. Kaki gue... kaki gue kayak berat banget, Di. Kayak ada yang megangin."
Aku melihat ke arah kakinya. Tidak ada apa-apa selain lumpur. Tapi ekspresi Iwan nggak bohong. Dia benar-benar ketakutan. Akhirnya aku mengalah. Kami mendirikan tenda seadanya di sela-sela akar pohon yang agak rata. Sumpah, memasang pasak di tanah ini rasanya aneh. Tanahnya empuk, terlalu empuk, seolah-olah di bawah lapisan daun-daun kering ini bukan tanah keras, tapi tumpukan sesuatu yang lain.
Malam jatuh dengan sangat cepat. Dan itu adalah malam paling sunyi yang pernah aku alami.
Kami tidak berani menyalakan api unggun yang besar, cuma kompor lapangan kecil buat masak mi instan. Itu pun nggak ada yang nafsu makan. Kami cuma duduk berhadapan di depan pintu tenda yang terbuka sedikit, menatap kegelapan di luar.
"Lu denger itu?" Iwan berbisik.
"Denger apa?"
"Suara... ketawa? Bukan, kayak suara orang lagi bisik-bisik, tapi banyak banget."
Aku mempertajam pendengaran. Awalnya cuma suara angin yang menggesek daun. Tapi kemudian, aku mendengarnya. Sshhh... ssshhhh... ki... ki... Suara itu datang dari segala arah. Bukan suara manusia, tapi nadanya mirip sekali dengan intonasi orang yang lagi ngerumpi di kejauhan.
"Itu mungkin cuma gesekan ranting, Wan. Tidur yuk, biar besok pagi kita bisa cari jalan balik," kataku, mencoba menenangkan diri sendiri.
Kami masuk ke dalam sleeping bag. Iwan langsung meringkuk, membelakangiku. Aku sendiri nggak bisa tidur. Pikiranku melayang ke cerita-cerita orang desa soal 'Hutan Larangan' yang ada di gunung ini. Katanya, kalau kamu mendengar suara orang memanggil namamu, jangan menoleh. Kalau kamu merasa jalanmu memutar, balikkan bajumu.
Ah, takhayul, pikirku waktu itu. Tapi sekarang? Aku nggak yakin.
Sekitar jam satu pagi, aku terbangun karena suara sesuatu yang berat diseret di luar tenda. Srak... srak... srak...
Aku membeku. Iwan masih mendengkur halus di sebelahku. Suara itu makin dekat. Jelas sekali itu suara sesuatu yang besar melintas di atas tumpukan daun kering. Lalu, suara itu berhenti tepat di depan tenda kami.
Aku bisa melihat bayangan dari luar melalui kain tenda yang tipis. Cahaya bulan yang pucat membentuk siluet sesuatu yang tinggi... tinggi sekali. Kepalanya hampir setinggi dahan pohon pertama. Dan yang membuat jantungku rasanya mau copot adalah bayangan itu tidak punya tangan. Hanya batang tubuh yang panjang dan sesuatu yang menjuntai dari bagian kepalanya.
Bayangan itu diam. Lama sekali.
Lalu, terdengar suara. Bukan bisikan lagi. Tapi suara Iwan.
"Di... buka pintunya, Di... dingin..."
Aku tersentak. Aku menoleh ke sampingku. Iwan masih ada di sana, tidur pulas dalam sleeping bag-nya. Suara yang di luar itu... itu suara Iwan yang persis sama, tapi nadanya datar, tanpa emosi.
"Di... buka, Di... gue di luar..."
Keringat dingin membanjiri punggungku. Aku menutup mulut dengan tangan, menahan agar tidak berteriak. Siapa yang ada di luar? Kalau Iwan ada di sini, terus yang di luar itu siapa?
Suara itu terus mengulang kalimat yang sama selama hampir sepuluh menit. Sampai akhirnya, bayangan itu perlahan menjauh, masuk kembali ke dalam kegelapan hutan.
Begitu matahari muncul—meskipun sinarnya cuma remang-remang yang menembus kabut—aku langsung membangunkan Iwan. Aku nggak cerita soal kejadian semalam, aku cuma bilang kita harus pergi sekarang juga.
"Kita nggak usah ke puncak, Wan. Kita turun sekarang," kataku sambil packing secepat kilat.
Iwan cuma mengangguk lesu. Matanya merah, kayak orang nggak tidur semalaman. Dia nggak banyak tanya, seolah-olah dia juga merasakan ada yang salah tapi nggak berani ngomong.
Kami mulai berjalan turun. Tapi hutan ini seolah berubah. Jalur yang kemarin kami lalui sudah tidak ada. Yang ada cuma deretan pohon kiara yang bentuknya hampir identik satu sama lain. Setiap beberapa puluh meter, kami menemukan gundukan tanah yang di atasnya ditaburi bunga kamboja yang masih segar. Padahal, mana ada pohon kamboja tumbuh di tengah hutan gunung seperti ini?
"Di, lihat itu," Iwan menunjuk ke bawah sebuah pohon besar.
Di sana, tergeletak sebuah tas carrier. Warnanya merah, sudah sangat kusam dan tertutup lumut. Aku mendekat dengan hati-hati. Di sebelah tas itu, ada sepatu bot yang sudah hancur.
"Ini punya siapa?" bisik Iwan.
Aku memberanikan diri membuka kantong kecil di tas itu. Di dalamnya ada sebuah dompet kulit yang sudah lapuk. Begitu aku buka, ada KTP di dalamnya.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Foto di KTP itu... itu foto Iwan. Nama yang tertera di sana: Iwan Setiawan. Tapi alamat dan tanggal lahirnya berbeda dengan Iwan yang ada di depanku sekarang.
Aku menoleh perlahan ke arah Iwan. Dia cuma berdiri di sana, menatap tas itu dengan tatapan kosong.
"Wan?" suaraku gemetar.
"Itu punya gue, Di," katanya pelan. Sangat pelan.
"Maksud lu apa? Lu kan di sini."
Iwan menatapku. Senyumnya perlahan mengembang, tapi itu bukan senyum manusia. Sudut mulutnya naik terlalu tinggi, sampai hampir menyentuh telinganya. "Gue yang di sini... atau gue yang di sana?"
Detik itu juga, aku lari. Aku nggak peduli lagi sama barang-barangku. Aku lari sekencang mungkin, menabrak semak berduri, melompati akar pohon, nggak peduli arah. Aku bisa mendengar suara tawa di belakangku, suara tawa yang terdiri dari puluhan suara manusia yang berbeda-beda, semuanya menyatu jadi satu koor yang memekakkan telinga.
Aku terus lari sampai napas rasanya mau habis. Sampai akhirnya, kakiku tersangkut sesuatu dan aku terguling jatuh ke sebuah lereng kecil. Semuanya jadi gelap.
Aku terbangun di sebuah balai-balai bambu. Bau minyak kayu putih dan asap kemenyan menusuk hidungku. Seorang kakek tua duduk di sudut ruangan, sedang melinting rokok nipah.
"Sudah bangun, Le?" tanyanya tanpa menoleh.
Aku berusaha duduk. Badanku sakit semua. "Mbah... teman saya mana? Iwan?"
Kakek itu diam sebentar, lalu mengembuskan asap rokoknya pelan-pelan. "Kamu naik sendirian, Le. Dari kemarin saya lihat kamu jalan masuk ke hutan itu cuma bawa tas satu. Nggak ada temanmu."
"Nggak mungkin, Mbah! Iwan naik sama saya! Kami berangkat bareng dari kota!" teriakku histeris.
Kakek itu menatapku dengan iba. Dia mengambil sesuatu dari atas meja kecil di sampingnya. Sebuah dompet kulit yang sudah lapuk. Dompet yang aku temukan di hutan tadi.
"Ini kamu bawa waktu warga nemuin kamu pingsan di pinggir sungai. Hutan itu... dia nggak suka orang asing. Kadang dia 'meminjam' ingatan kita buat nemenin kita jalan di sana. Biar kita nggak ngerasa sendirian sebelum akhirnya kita jadi bagian dari dia."
Aku terdiam. Tanganku gemetar saat menerima dompet itu. Begitu aku buka, foto di KTP-nya sudah hilang. Kosong. Cuma ada selembar kertas kecil yang tintanya sudah hampir luntur.
Tulisannya cuma satu kalimat: Jangan pernah menoleh ke belakang kalau sudah sampai di pohon kiara ketiga.
Sampai sekarang, aku sudah kembali ke kota. Aku menjalani hidup seperti biasa. Tapi setiap kali aku bercermin, aku sering merasa ada yang aneh dengan bayanganku. Kadang, bayanganku di cermin tersenyum duluan sebelum aku benar-benar tersenyum.
Dan yang paling membuatku nggak bisa tidur setiap malam adalah ini: Aku mencoba menghubungi orang tua Iwan di kampungnya. Mereka bilang, mereka nggak punya anak yang namanya Iwan. Mereka sama sekali nggak kenal siapa itu Iwan.
Lalu, siapa yang menemaniku mendaki selama dua hari itu? Siapa yang fotonya kulihat di KTP itu?
Kadang, saat suasana sedang sepi di kamar, aku bisa mendengar suara itu lagi. Suara bisikan di balik tembok yang bunyinya selalu sama.
"Di... buka, Di... dingin..."
Aku cuma bisa meringkuk di bawah selimut, berharap matahari cepat terbit. Karena aku tahu, di luar sana, di tengah hutan yang jauh itu, ada sesuatu yang masih memakai wajah 'Iwan' dan dia sedang menungguku untuk kembali menjemput dompetnya yang tertinggal.
Mungkin besok aku harus kembali ke sana. Bukan untuk mencari jawaban, tapi karena aku merasa sebagian dari diriku... memang sudah tertinggal di sana, tertanam di bawah akar pohon kiara yang tanahnya terlalu empuk itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar