Seharusnya aku tidak berhenti di sana. Seharusnya aku terus saja memacu motor tuaku sampai ke kota kecamatan, meski pinggang rasanya mau patah dan bensin tinggal satu strip. Tapi kabut di lereng ini beda. Dia tidak pelan-pelan turun, tapi seperti tumpah begitu saja dari langit, menutup pandangan sampai jarak satu meter pun tidak kelihatan.
Lalu, bau itu muncul. Bau kunyit. Tajam sekali, seperti ada yang baru saja memarut rimpang itu tepat di depan hidungku. Aneh, pikirku. Di ketinggian begini, di tengah hutan pinus yang seharusnya bau getah, kenapa malah bau bumbu dapur?
Aku menepi. Mesin motor kumatikan. Sunyi langsung menyergap, tipe sunyi yang bikin telinga berdenging. Di balik kabut yang mulai menipis, aku melihat gapura kayu—kalau boleh disebut gapura. Hanya dua batang kayu jati tua yang dipasang melintang, tanpa ukiran, tanpa tulisan "Selamat Datang". Di baliknya, jalan setapak berbatu menurun tajam.
"Permisi..." suaraku terdengar cempreng di tengah kesunyian itu. Tidak ada jawaban.
Aku menuntun motor, mengikuti insting saja. Mungkin ada bengkel, atau setidaknya warung buat beli bensin eceran dan segelas kopi hitam. Setelah tikungan tajam, kabut itu mendadak hilang, seperti ditarik tangan tak terlihat. Di bawah sana, sebuah desa membentang.
Rumah-rumahnya seragam. Atapnya dari rumbia hitam, dindingnya anyaman bambu yang sudah kelabu dimakan usia. Tidak ada kabel listrik yang melintang. Tidak ada suara radio, tidak ada gonggongan anjing, bahkan suara ayam pun tidak ada. Padahal matahari sudah hampir tenggelam.
"Cari siapa, Mas?"
Aku hampir melompat. Di samping sebuah sumur tua, seorang perempuan berdiri. Dia memakai kebaya lurik yang warnanya sudah pudar, sedang memegang tampah berisi irisan kunyit. Oh, jadi ini sumber baunya.
"Eh, anu... bensin saya mepet, Bu. Ada yang jual bensin eceran di sini?" tanyaku sambil berusaha menenangkan jantung yang masih berdegup kencang.
Perempuan itu diam sebentar. Matanya tidak benar-benar menatapku, melainkan menatap bahu kiriku. Agak lama. "Di sini tidak ada bensin. Orang sini tidak pakai mesin."
Suaranya datar. Tidak galak, tapi tidak ramah juga. Dingin.
"Waduh. Terus kalau mau keluar ke jalan raya lewat mana ya, Bu? Saya kayaknya salah ambil jalan tadi."
Dia menunjuk ke arah jalan setapak yang baru saja kulewati dengan dagunya. "Jalan tadi itu satu-satunya. Tapi kalau sudah jam segini, jangan naik lagi. Kabutnya jahat. Mas menginap saja di rumah Pak Tua di ujung sana."
Aku melihat ke arah yang ditunjuknya. Sebuah rumah yang sedikit lebih besar dari yang lain, berdiri agak menjorok ke arah tebing. Aku ingin menolak. Sungguh, ada sesuatu yang salah dengan tempat ini. Tapi saat aku melihat ke arah langit, warna oranye itu sudah berganti jadi ungu gelap yang mengancam. Dan kabut di atas sana... dia seperti tembok padat yang tidak mungkin ditembus.
"Terima kasih, Bu," kataku pelan. Dia tidak menjawab, malah kembali sibuk dengan kunyitnya.
Pak Tua itu—aku tidak pernah tahu namanya—menerimaku tanpa sepatah kata pun. Dia hanya mengangguk saat aku minta izin menumpang semalam, lalu memberiku sebuah kamar kecil di bagian belakang rumah. Kamarnya bersih, tapi baunya sama: kunyit dan tanah basah.
Kami makan malam dalam diam. Hanya ada nasi putih, rebusan daun singkong, dan sambal mentah. Pak Tua itu makan dengan sangat pelan. Setiap kunyahan seolah-olah adalah sebuah ritual. Dia tidak pernah melepaskan capingnya, bahkan di dalam rumah yang remang-remang karena hanya diterangi pelita minyak.
"Jangan keluar setelah lampu dimatikan," katanya tiba-tiba. Itu kalimat pertama yang dia ucapkan sejak aku masuk.
"Kenapa, Pak? Banyak binatang buas?"
Dia berhenti mengunyah. Matanya yang keruh menatapku lewat sela-sela pinggiran caping. "Bukan. Mereka cuma tidak suka kalau ada yang berjalan-jalan saat mereka sedang... bekerja."
"Mereka?"
Pak Tua tidak menjawab. Dia membereskan piringnya, mematikan pelita di meja makan, dan membiarkanku terpaku dalam gelap sebelum aku sempat mengambil senter dari tas.
Aku masuk ke kamar dengan perasaan tidak enak yang luar biasa. Aku merebahkan diri di balai-balai bambu yang keras. Mataku sulit terpejam. Di luar, suara angin mulai menderu, tapi anehnya, pohon-pohon di sekitar rumah tidak terdengar berdesik.
Sekitar jam satu pagi, aku terbangun. Bukan karena suara, tapi karena ketiadaan suara. Benar-benar hampa. Lalu, pelan-pelan, aku mendengar sesuatu dari arah luar dinding bambu kamarku.
Srak... srak... srak...
Seperti suara sesuatu yang diseret di atas tanah. Pelan dan ritmis. Aku menempelkan telinga ke dinding bambu. Suara itu makin jelas. Dan bukan cuma satu, tapi banyak. Dari segala arah, suara seretan itu menuju ke tengah desa.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku—sebuah kebodohan yang sering kusesali belakangan. Aku mengintip lewat celah anyaman bambu yang sedikit renggang.
Di luar, dalam keremangan cahaya bulan yang tertutup awan tipis, aku melihat mereka. Penduduk desa. Mereka semua keluar dari rumah. Semuanya memakai pakaian yang sama, kain lurik kusam. Mereka tidak berjalan seperti biasa. Kaki mereka tidak diangkat, tapi diseret di atas tanah. Itu sebabnya suaranya begitu aneh.
Mereka berkumpul di lapangan tengah desa. Di sana, mereka mulai melakukan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Mereka berjongkok, lalu mulai menggali tanah dengan tangan kosong. Tidak ada percakapan. Tidak ada instruksi. Hanya suara kuku yang beradu dengan tanah keras dan sesekali suara napas yang berat.
Lalu, perempuan yang kutemui di sumur tadi muncul di tengah lingkaran. Dia membawa tampah besar berisi irisan kunyit. Dia menaburkannya ke dalam lubang-lubang yang mereka gali.
Aku menahan napas saat melihat apa yang mereka keluarkan dari dalam tanah. Bukan harta karun. Bukan juga mayat—setidaknya bukan mayat utuh. Mereka mengeluarkan potongan-potongan kain putih yang sudah kecokelatan, membukanya, lalu menggosokkan kunyit ke sesuatu di dalamnya.
Apakah itu tulang? Aku tidak yakin. Bentuknya lebih seperti... akar kayu yang menyerupai bagian tubuh manusia.
Tiba-tiba, Pak Tua yang memberiku tumpangan berdiri tepat di depan celah intipanku. Aku tahu dia tidak bisa melihatku di dalam kegelapan kamar, tapi dia berhenti tepat di sana. Kepalanya miring ke kiri, seolah sedang mendengarkan detak jantungku yang menggila.
"Belum tidur, Nak?" bisiknya. Suaranya tepat di balik dinding bambu, hanya beberapa sentimeter dari telingaku.
Aku membeku. Aku bahkan tidak berani mengembuskan napas. Aku mundur perlahan, naik kembali ke balai-balai, dan meringkuk di bawah selimut tipis yang baunya apek. Suara seretan itu berlanjut sampai subuh. Srak... srak... srak...
Pagi hari, desa itu tampak normal kembali. Setidaknya se-normal desa tanpa suara bisa terlihat. Kabut sudah terangkat, menyisakan pemandangan lembah yang hijau dan segar. Tapi bau kunyit itu masih ada, lebih tajam dari kemarin.
Pak Tua sedang duduk di ambang pintu, menyeruput cairan bening dari batok kelapa.
"Jalannya sudah bersih. Kau bisa pergi sekarang," katanya tanpa menoleh.
Aku tidak banyak tanya. Aku segera menyambar tas dan menuju motor. Saat melewati lapangan tengah desa, aku melihat tanahnya rata. Tidak ada bekas galian sama sekali. Rapi, seolah kejadian semalam cuma mimpi buruk akibat kelelahan.
Namun, saat aku menuntun motor melewati sumur tua tempat perempuan itu berdiri kemarin, aku melihat sesuatu di bawah pohon kamboja. Sebuah benda kecil tergeletak di tanah.
Aku membungkuk, mengambilnya. Itu adalah irisan kunyit. Tapi saat aku memegangnya, teksturnya bukan seperti umbi. Kenyal, sedikit hangat, dan ada serat-serat halus seperti pembuluh darah. Di salah satu ujungnya, ada kuku manusia yang masih menempel, kuning kena noda kunyit.
Jantungku rasanya mau copot. Itu bukan akar. Itu jari.
Aku segera membuang benda itu dan menghidupkan motor. Aku tidak peduli lagi kalau mesinnya akan mati di tengah jalan. Aku memacu motorku menanjak ke arah gapura kayu sekuat tenaga.
Saat aku sampai di puncak, di titik di mana aku pertama kali melihat desa itu, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Desa itu hilang.
Yang ada hanya lembah curam penuh pohon pinus yang rapat. Tidak ada atap rumbia, tidak ada jalan setapak, tidak ada asap dapur. Hanya kabut putih yang mulai merayap naik kembali, pelan dan pasti.
Aku meraba saku jaketku, berniat mengambil ponsel untuk memastikan koordinat GPS-ku. Tapi jariku menyentuh sesuatu yang kasar di dasar saku. Aku menariknya keluar.
Irisan kunyit.
Benda itu ada di dalam sakuku. Dan yang membuatku lemas, saat aku melihat telapak tanganku, noda kuning dari kunyit itu tidak bisa hilang meski sudah kuseka berkali-kali ke celana. Noda itu justru mulai menyebar, merayap ke arah pergelangan tanganku, terasa hangat dan sedikit berdenyut.
Aku segera memacu motor tanpa berani berhenti lagi. Sampai sekarang, setiap kali aku mencium bau kunyit di dapur atau di pasar, tanganku selalu mulai berdenyut. Dan terkadang, kalau suasana sedang sangat sepi, aku merasa seolah mendengar suara halus di belakang telingaku.
Srak... srak... srak...
Mungkin mereka belum selesai bekerja. Atau mungkin, mereka sedang menunggu bagian dari diriku yang tertinggal di sana untuk dikubur kembali.
Apakah kamu ingin aku melanjutkan cerita ini dengan menceritakan apa yang terjadi pada tangan tokoh utamanya setelah beberapa hari berlalu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar