Entah kenapa, baunya masih nempel di hidung sampai sekarang. Bukan bau bangkai yang menyengat atau bau kembang melati yang sering ada di film-film. Bukan itu. Ini bau tanah basah yang... amis. Seperti ada sesuatu yang baru saja dikubur hidup-hidup, tapi tanahnya nggak mau menerima.
Waktu itu tahun 2018. Aku baru saja lulus kuliah dan merasa terlalu idealis untuk langsung kerja kantoran di Jakarta. Akhirnya, aku ambil tawaran proyek survei pemetaan di sebuah desa di pelosok Jawa Tengah. Namanya Desa Kalimati—ironis memang, karena di sana air melimpah, tapi suasananya sepi seolah-olah semua orang sedang menahan napas.
"Mas, kalau sudah lewat jam lima, mending di rumah saja. Nggak usah ke arah bukit," kata Pak RT waktu itu, sambil nyeruput kopi hitamnya yang kental sekali.
Aku cuma mengangguk sopan. Tipikal orang kota, aku menganggap itu cuma peringatan soal binatang buas atau mungkin karena jalannya yang belum ada lampu. Lagipula, aku ini orangnya logis. Mana percaya yang begitu-begitu.
Sore itu gerimis. Kecil saja, tapi bikin udara jadi lembap dan lengket di kulit. Aku terpaksa jalan kaki dari ujung desa karena motor inventarisku mogok di dekat jembatan kayu. Sial banget.
Jarak ke rumah kontrakan sebenarnya cuma dua kilometer, tapi jalannya menanjak dan kanan-kirinya pohon jati yang sudah meranggas. Daun-daun keringnya kalau terinjak suaranya berisik banget, krek... krek... seolah-olah ada yang ngikutin dari belakang tapi setiap aku menoleh, cuma ada bayangan pohon yang bergoyang kena angin.
Lalu aku melihat dia.
Di tengah jalan yang sepi itu, ada seorang perempuan paruh baya pakai kebaya lusuh warna hijau lumut. Dia lagi jongkok di pinggir parit. Tangannya sibuk meraba-raba sesuatu di dalam air keruh.
"Permisi, Bu. Cari apa?" tanyaku spontan.
Dia nggak langsung jawab. Tangannya berhenti bergerak. Pelan-pelan dia menoleh, tapi kepalanya miring ke satu sisi dengan sudut yang... rasanya agak kurang wajar kalau dilakukan manusia normal.
"Cari yang hilang, Mas," suaranya serak, kayak orang yang sudah lama nggak minum.
"Hilang apa?"
"Anak saya. Tadi dia main di sini, terus masuk ke dalam." Dia menunjuk ke arah rimbunan pohon bambu yang gelapnya minta ampun.
Aku merinding sebentar. Bukan karena hantu, tapi karena ekspresi mukanya yang kosong. Matanya nggak benar-benar melihat ke aku, tapi ke arah leherku. Aku buru-buru pamit. "Oh, iya Bu. Semoga ketemu ya. Saya duluan."
Aku jalan lebih cepat. Jantungku mulai berdegup nggak beraturan. Ada yang aneh. Desa ini kecil, aku sudah sebulan di sini, tapi aku nggak pernah lihat ibu itu sebelumnya. Dan bajunya... kenapa kering? Padahal gerimis tadi lumayan bikin bajuku sendiri lembap.
Malamnya, aku nggak bisa tidur. Suara jangkrik di luar terdengar terlalu keras, atau mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Aku mencoba menyalakan laptop untuk mengerjakan laporan, tapi sinyal internet benar-benar nol.
Tiba-tiba, ada suara ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
Pelan sekali. Aku melihat jam dinding. Pukul 01.15 pagi. Siapa yang bertamu jam segini?
"Mas... Mas yang tadi..."
Itu suara ibu yang di parit. Aku membeku di tempat tidur. Bagaimana dia tahu aku tinggal di sini? Kontrakanku ini agak terpisah dari rumah warga lain.
Aku mendekat ke arah pintu, tapi nggak berani membukanya. Ada celah kecil di bawah pintu kayu yang sudah agak keropos. Aku mencoba mengintip. Di sana, aku melihat sepasang kaki. Pucat. Dan yang bikin perutku mual, kaki itu nggak menapak di lantai teras. Ada jarak sekitar dua senti antara telapak kaki itu dengan lantai semen.
Aku mundur pelan-pelan. Nafasku tertahan di tenggorokan.
"Mas, anak saya sudah ketemu. Tapi dia minta ditemani..."
Lalu sunyi. Benar-benar sunyi. Bahkan suara jangkrik pun hilang. Yang tersisa cuma suara detak jantungku sendiri yang saking kerasnya sampai terasa sakit di dada.
Besok paginya, aku langsung menemui Pak RT. Aku ceritakan soal ibu itu, bajunya yang hijau, dan suaranya yang serak. Pak RT diam lama sekali. Dia membakar rokok kreteknya, menghirupnya dalam-dalam sampai ujungnya merah membara.
"Namanya Bu Warsi," kata Pak RT pelan.
"Oh, benar ada ya Pak? Syukurlah kalau orang beneran."
"Dia memang orang beneran, Mas. Dulu. Tahun 90-an anaknya hilang di sungai bawah bukit bambu itu. Bu Warsi stres, setiap sore dia jongkok di parit nyari anaknya. Sampai akhirnya dia sendiri ditemukan meninggal di sana karena jatuh tergelincir."
Aku merasa seluruh darahku turun ke kaki. Dingin. "Terus... yang saya lihat kemarin?"
Pak RT cuma menatapku dengan tatapan kasihan. "Mas, Desa Kalimati ini bukan soal hantu-hantuan kayak di TV. Di sini, batas antara yang hidup dan yang nggak itu tipis. Mungkin Mas dianggap 'teman baru' sama dia. Saran saya, jangan keluar rumah kalau dengar suara air mengalir di tempat yang nggak seharusnya."
Aku nggak paham maksud "suara air mengalir" itu sampai dua hari kemudian.
Hari terakhirku di desa itu. Aku sudah mengemas semua barang. Aku mau pulang ke Jakarta malam itu juga, masa bodoh dengan laporan yang belum selesai. Aku nggak tahan lagi. Suasana desa ini makin lama makin mencekik.
Waktu aku lagi memuat tas ke atas motor—yang untungnya sudah benar—aku mendengar suara itu.
Grojok... grojok...
Seperti suara keran yang dibuka lebar-lebar. Tapi suaranya berasal dari dalam kamarku. Padahal di dalam kamar nggak ada keran air. Kamar mandi ada di belakang, terpisah.
Aku memberanikan diri masuk. Penasaran bercampur takut yang sudah di ujung kepala.
Lantai kamarku basah kuyup. Airnya keruh, campur lumpur dan daun bambu yang membusuk. Dan di tengah-tengah genangan air itu, ada jejak kaki kecil. Jejak kaki anak-anak, mengarah ke bawah kolong tempat tidur.
Aku nggak berani melihat ke bawah kolong. Sumpah, aku nggak berani. Aku langsung lari keluar, menyalakan motor, dan tancap gas tanpa menoleh ke belakang. Aku bahkan meninggalkan satu kardus berisi buku-buku referensiku di sana.
Sepanjang perjalanan keluar desa, aku merasa ada yang duduk di jok belakang. Motorku terasa berat sekali, kayak lagi bonceng orang dewasa yang badannya besar. Setiap kali aku lewat di bawah pohon atau area gelap, aku merasa ada tangan dingin yang hampir menyentuh tengkukku.
"Jangan menoleh... jangan menoleh..." aku merapal itu terus di dalam hati.
Sampai di jalan raya besar yang banyak lampu, beban di motorku tiba-tiba hilang. Rasanya ringan lagi. Aku berhenti sebentar di sebuah pom bensin yang terang benderang. Aku butuh melihat manusia lain. Aku butuh cahaya.
Aku turun dari motor, gemetar parah. Aku melihat ke arah jok belakang.
Kosong.
Tapi di sana, di atas kulit jok yang hitam itu, ada bekas telapak tangan kecil dari lumpur. Dan baunya... bau tanah basah yang amis itu kembali tercium.
Aku masuk ke toilet pom bensin, mencuci muka berkali-kali. Pas aku mau mengeringkan muka pakai tisu, aku melihat ke cermin.
Di leherku, ada bekas memar kemerahan berbentuk jari-jari kecil. Tipis sekali, nyaris nggak kelihatan kalau nggak diperhatikan benar-benar. Rasanya nggak sakit, tapi dingin.
Sampai sekarang, tujuh tahun kemudian, aku sudah tinggal di apartemen lantai 20 di Jakarta. Jauh dari hutan, jauh dari desa, jauh dari pohon bambu. Tapi setiap kali hujan turun sangat deras, aku selalu mendengar suara ketukan pelan di pintu depan.
Tok... tok... tok...
Dan di bawah celah pintu apartemenku yang modern itu, kadang-kadang aku melihat rembesan air keruh yang membawa aroma tanah basah.
Aku nggak pernah berani membuka pintu kalau hujan turun. Aku juga nggak pernah lagi tanya "cari apa?" kepada siapapun di jalanan yang sepi. Karena kadang, apa yang hilang memang nggak seharusnya ditemukan kembali.
Bagaimana menurutmu? Apa kamu pernah merasa ada "sesuatu" yang mengikuti setelah kamu pulang dari tempat asing, atau mau aku coba ulas lebih dalam soal bagian di pom bensin itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar