Kopi di gelas plastik ini sudah dingin. Rasanya makin hambar, tapi entah kenapa aku tetap menyeruputnya. Di depanku, jalanan aspal yang sudah pecah-pecah di sana-sini seolah tak ada ujungnya. Aku lupa kapan terakhir kali melihat lampu jalan yang menyala. Semuanya gelap, hanya ada sorot lampu motorku yang membelah kabut tipis di kaki gunung ini.
Sialan. Harusnya aku tadi tidak usah mampir ke rumah Pak RT dulu. Niatnya sih sopan santun karena aku baru balik lagi ke desa ini setelah sepuluh tahun merantau di Jakarta. Tapi obrolan soal "batas tanah" dan "siapa yang nunggu sekarang" malah bikin kepalaku berat.
"Dah, mending kamu langsung tidur aja, Man. Besok baru kita beresin surat-suratnya," kata Pak RT tadi. Nadanya biasa, tapi matanya itu... seolah dia ingin bilang sesuatu tapi nggak enak hati.
Aku memacu motor lebih pelan. Jalanan masuk ke Dusun Girah ini memang nggak pernah berubah. Kanan kiri masih didominasi pohon bambu yang saling bergesekan kalau kena angin. Suaranya itu, lho. Krieeet... kriet... Seperti suara pintu tua yang dibuka paksa. Aku bergidik, membetulkan letak kerah jaket. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Rumah kakek ada di ujung jalan. Satu-satunya rumah yang masih pakai pagar kayu jati rendah. Pas aku sampai depan pagar, aku berhenti sebentar. Bau tanah basah dan melati hutan langsung menyerbu hidung. Aneh. Padahal ini bukan musim bunga.
Aku turun dari motor, membuka gerbang yang engselnya sudah karatan. Suaranya nyaring sekali di tengah kesunyian malam yang gila ini. Jam di tangan menunjukkan pukul 11.45 malam.
"Assalamualaikum," ucapku pelan. Hampir seperti bisikan.
Nggak ada jawaban. Ya jelas, rumah ini kan kosong sejak kakek meninggal dua tahun lalu. Tapi, kenapa perasaanku nggak enak ya? Pas aku colokkan kunci ke lubang pintu depan, kuncinya langsung berputar dengan gampang. Kayak baru saja diminyaki.
Ceklek.
Pintu terbuka. Gelap gulita. Bau apek khas bangunan lama yang tertutup rapat langsung menyambut. Aku meraba dinding, mencari saklar lampu ruang tamu. Ketemu.
Tik.
Lampu kuning redup menyala. Kedip-kedip sebentar, lalu stabil. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang. Ruangannya masih sama. Foto kakek yang hitam putih masih nempel di sana, miring sedikit. Kursi rotan yang dulu sering kupakai buat main mobil-mobilan juga masih di pojokan.
Tapi ada yang beda.
Di atas meja kayu jati yang bundar itu, ada segelas teh. Masih berasap.
Aku mematung. Pikiranku langsung lari kemana-mana. Apa ada maling? Tapi nggak mungkin maling bikin teh. Apa Pak RT tadi ke sini dulu? Tapi motornya nggak ada di depan. Aku mendekat, ragu-ragu. Uapnya masih tipis-tipis naik ke udara. Aku menyentuh pinggiran gelasnya.
Hangat. Sangat hangat.
"Siapa?" teriakku. Suaraku agak pecah, ketakutan yang kusembunyikan mulai bocor.
Hening. Cuma ada suara jangkrik di luar yang tiba-tiba berhenti. Jeda itu terasa lama sekali. Aku berjalan menuju dapur, langkahku pelan, sengaja diringankan supaya nggak berisik. Lantai kayu di bawah kakiku sesekali berderit. Kriet... kriet...
Dapur juga kosong. Kompor gas model lama itu mati. Nggak ada sisa air mendidih di panci. Semuanya kering. Jadi dari mana asal air panas di gelas itu?
Aku mencoba berpikir logis. Mungkin aku cuma capek. Halusinasi. Ya, pasti itu. Efek kurang tidur gara-gara perjalanan sepuluh jam dari Jakarta. Aku memutuskan untuk langsung ke kamar kakek di lantai dua. Itu satu-satunya kamar yang kasurnya masih layak pakai, menurut kata Pak RT lewat telepon minggu lalu.
Tangga kayu menuju lantai atas itu sempit. Pas aku naik ke anak tangga ketiga, aku mendengar sesuatu.
Srak... srak...
Seperti suara kain yang diseret di lantai atas. Aku berhenti. Menahan napas. Suara itu hilang. Aku lanjut naik lagi. Begitu sampai di bordes tangga, aku melihat pintu kamar kakek terbuka sedikit. Sinar lampu dari dalam kamar tumpah ke lorong.
Lampu? Seingatku aku belum menyalakan lampu atas.
Tanganku gemetar hebat sekarang. Aku merogoh saku, mencari kunci inggris kecil yang tadi sempat kubawa dari bagasi motor. Minimal ada senjata kalau-kalau ada orang asing di dalam. Aku dorong pintu itu pelan dengan ujung kaki.
Krieeeet...
Kamar itu rapi. Terlalu rapi untuk rumah yang ditinggal dua tahun. Sprei kasur yang motif bunga-bunga kusam itu terpasang kencang, nggak ada kerutan. Di atas nakas, ada radio transistor tua milik kakek. Dan yang bikin jantungku hampir copot: radionya menyala. Tapi nggak ada suara musik atau orang bicara. Cuma suara kresek-kresek statis yang monoton.
Sshhh... shhh... shh...
Aku mendekat ke radio itu, bermaksud mematikannya. Tapi saat tanganku mau menyentuh tombol off, suara di radio itu berubah. Suara statisnya menghilang, berganti dengan suara napas. Napas yang berat, tua, dan... basah. Kayak orang yang paru-parunya penuh cairan.
"Sudah pulang, Man?"
Suara itu kecil sekali, muncul dari sela-sela suara statis. Tapi aku kenal suara itu. Itu suara kakek. Tapi kakek sudah dikubur dua tahun lalu. Aku sendiri yang ikut nurunin jenazahnya ke liang lahat.
Aku mundur selangkah. Kakiku menabrak lemari pakaian kayu yang besar. Pintu lemarinya terbuka sendiri. Di dalamnya, nggak ada baju. Cuma ada tumpukan tanah merah yang masih basah. Bau tanahnya kuat sekali, bau makam yang baru digali.
"Man... haus..."
Suara itu sekarang bukan dari radio. Suara itu datang dari bawah tempat tidur.
Aku nggak berani melihat ke bawah. Aku benar-benar mematung. Otakku menyuruh lari, tapi kakiku rasanya kayak dipaku ke lantai. Perlahan, sesuatu muncul dari balik sprei yang menjuntai ke lantai. Sebuah tangan. Kulitnya pucat keabuan, keriput, dan kuku-kukunya penuh tanah hitam.
Tangan itu merayap naik ke pinggiran kasur. Pelan, sangat pelan. Lalu muncul kepalanya. Rambutnya putih jarang-jarang, kulit wajahnya sebagian sudah melesap, menempel ke tulang pipi. Tapi matanya... matanya masih sama. Teduh, tapi sekarang kosong.
"Tehnya... kok nggak diminum?" tanya sosok itu. Mulutnya tidak bergerak, tapi suaranya bergema di dalam kepalaku.
Aku berteriak. Aku nggak peduli lagi soal harga diri atau apa. Aku balik badan, lari tunggang langgang menuruni tangga. Aku sempat terpeleset di anak tangga terakhir, lututku menghantam lantai keras-keras, tapi aku nggak peduli. Rasa sakitnya nggak sebanding dengan rasa dingin yang mengejarku dari belakang.
Aku sampai di ruang tamu. Gelas teh yang tadi ada di meja sekarang sudah pecah. Airnya tumpah ke lantai, tapi airnya merah. Merah pekat seperti darah. Dan di dinding, foto kakek yang tadi miring sekarang sudah tegak lurus. Wajah kakek di foto itu tidak lagi tersenyum. Matanya melirik ke arahku, mengikuti gerakanku.
Aku buka pintu depan dengan kasar, lari ke arah motor. Aku nggak sempat pakai helm. Aku starter motor berkali-kali.
Ngeng... ngeng... matot.
"Ayo dong, ayo!" aku berteriak sambil terus menghentak kick starter.
Dari jendela lantai dua, aku melihat sosok itu berdiri. Dia cuma diam, melihatku dari balik kaca yang berdebu. Dia melambaikan tangan. Pelan. Kayak orang yang melepas keberangkatan anggota keluarga.
Motor akhirnya menyala. Aku tancap gas tanpa menoleh lagi. Aku baru berhenti setelah sampai di warung kopi depan gang dusun yang masih ada orang-orang nongkrong. Napas kembang kempis. Keringat dingin mengucur deras meski udara malam itu luar biasa menggigil.
Orang-orang di warung melihatku dengan tatapan aneh. Salah satu bapak-bapak, namanya Pak Kumis kalau nggak salah, mendekat.
"Lho, Mas Firman? Kok mukanya pucat amat? Habis dari rumah kakek ya?" tanyanya sambil menyodorkan segelas air putih.
Aku mengangguk, masih gemetaran. Aku teguk air itu sampai habis. "Iya, Pak. Tapi... ada yang aneh di rumah itu."
Pak Kumis menghela napas, duduk di sampingku. Dia menyulut rokok klobotnya, membiarkan asapnya membumbung tinggi. "Harusnya jangan malam ini, Man. Malam ini kan tepat seribu harinya kakekmu."
Aku terdiam. Seribu hari? Aku nggak pernah menghitungnya.
"Tapi yang aneh bukan itu, Man," lanjut Pak Kumis dengan nada suara yang merendah, hampir berbisik. "Kakekmu itu sebelum meninggal, dia pesan satu hal ke kami semua di sini. Dia bilang, kalau suatu saat cucunya pulang, jangan dibiarkan masuk ke rumah lewat pintu depan."
"Kenapa, Pak?" tanyaku, tenggorokanku mendadak kering lagi.
Pak Kumis menatapku dalam-dalam. Ada rasa kasihan di matanya. "Karena kakekmu tahu, rumah itu sudah bukan punya dia lagi. Tanah itu... tanah itu dulu bekas kuburan keluarga yang nggak dipindah dengan benar pas desa ini dibangun."
"Terus, siapa yang saya lihat tadi?"
Pak Kumis nggak menjawab. Dia cuma menunjuk ke arah celanaku. Aku menunduk. Di ujung celana jinsku, ada bekas genggaman tangan dari tanah merah yang basah. Dan pas aku raba kantong jaketku, aku menemukan sesuatu yang bukan milikku.
Sebuah kunci pintu. Tapi ini bukan kunci rumah kakek. Ini kunci kuningan tua yang sudah berkarat, dan ada label kertas kecil yang digantung dengan benang lusuh. Tulisannya sudah agak pudar, tapi masih bisa dibaca: Kamar Bawah.
Masalahnya, rumah kakek nggak punya kamar bawah tanah.
Atau mungkin, aku saja yang belum tahu kalau rumah itu punya "lantai" lain yang lebih dalam.
Aku melihat kembali ke arah jalanan gelap menuju rumah itu. Di kejauhan, di antara pepohonan bambu, aku melihat satu lampu kecil menyala. Redup dan kuning. Persis seperti lampu di ruang tamu tadi.
Apakah dia masih menungguku di sana? Atau dia sedang mencari jalan keluar lewat kunci yang sekarang ada di tanganku ini?
Malam itu, aku nggak berani pulang ke rumah siapa pun. Aku duduk di warung itu sampai pagi, memegang kunci berkarat itu dengan tangan yang tak kunjung berhenti gemetar. Dan setiap kali angin bertiup dari arah gunung, aku merasa seperti mendengar bisikan lirih di telingaku: "Tehnya jangan dibuang, Man. Sayang..."
Gimana, Man? Ceritanya cukup bikin merinding nggak? Kalau kamu mau aku kembangin lagi detail di bagian-bagian tertentunya, atau mau ganti setting tempatnya jadi lebih spesifik, bilang aja ya. Kita bisa ulik bareng biar makin "manusiawi" ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar