Jumat, 09 Januari 2026

Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dingin di Lereng Argopuro

Asap rokok kretekku mengepul, kalah telak oleh kabut yang merayap masuk lewat celah papan kayu dinding dapur. Dinginnya tidak masuk akal. Padahal ini baru jam delapan malam, tapi rasanya tulang keringku seperti sedang diremas-remas es batu. Aku membetulkan letak sarung yang melilit leher, mencoba mencari sisa-sisa hangat dari tungku api yang mulai meredup.
​"Pak, kopinya kok nggak habis-habis?" tanyaku pada Pak Darmo.
​Laki-laki tua itu cuma berdeham. Dia duduk di amben bambu seberangku, matanya menatap kosong ke arah pintu belakang yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Tangannya yang kasar sibuk melinting tembakau. Di depannya, sebuah cangkir seng bermotif lurik hijau masih mengepulkan uap tipis. Padahal, seingatku, dia sudah menuangkan air mendidih itu sejak sejam yang lalu. Logikanya, di suhu serendah ini, kopi harusnya sudah dingin dalam sepuluh menit.
​"Nanti juga habis sendiri, Mas," jawabnya pendek. Suaranya serak, khas orang pegunungan yang jarang bicara.
​Aku mengangguk saja, meski sebenarnya ada rasa mengganjal di ulu hati. Aku baru dua hari di desa ini—sebuah pemukiman kecil di kaki Gunung Argopuro yang bahkan tidak muncul di Google Maps dengan jelas. Kedatanganku ke sini sederhana saja: riset untuk proyek dokumenter tentang jalur-jalur lama yang sudah ditinggalkan. Tapi entah kenapa, suasana di sini terasa berbeda. Bukan seram yang seperti di film-film, tapi lebih ke arah... berat. Seperti ada sesuatu yang menekan udara sampai oksigen terasa tipis.
​"Masnya kalau mau tidur, tidur saja. Kamar di belakang sudah saya bersihkan," kata Pak Darmo tanpa menoleh.
​"Enggak apa-apa, Pak. Masih nunggu kantuk. Di sini kalau malam memang sepi begini ya?"
​Pak Darmo berhenti melinting. Dia menatapku sebentar, tatapan yang sulit diartikan. "Sepi itu bagus, Mas. Berarti mereka lagi nggak pengen diganggu."
​Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Mereka siapa, Pak? Tetangga?"
​Dia tidak menjawab. Dia malah meraih cangkir kopinya, bukan untuk diminum, tapi hanya digeser beberapa sentimeter ke arah kanan. Gerakan itu terasa sangat mekanis, seperti sebuah ritual yang sudah dilakukan ribuan kali. Aku memperhatikan uap kopi itu lagi. Masih mengepul. Konsisten. Seolah-olah ada kompor tak kasat mata di bawah cangkir itu.
​Malam semakin larut. Aku memutuskan masuk ke kamar karena suhu sepertinya merosot drastis. Kamar yang diberikan Pak Darmo sangat sederhana. Kasur kapuk yang agak apek, satu meja kayu kecil, dan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah hutan pinus.
​Aku berbaring, mencoba memejamkan mata. Namun, telingaku justru menjadi sangat sensitif. Aku mendengar suara langkah kaki di luar. Pelan. Srek... srek... srek... Seperti suara orang menyeret kain basah di atas tanah. Aku bangkit, mengintip dari celah jendela.
​Tidak ada siapa-siapa. Hanya barisan pohon pinus yang bergoyang pelan ditiup angin.
​Tapi kemudian aku mendengarnya lagi. Kali ini dari arah dapur. Suara denting sendok beradu dengan cangkir seng. Ting. Ting. Ting. Ritmenya sangat teratur. Aku mengerutkan kening. Apakah Pak Darmo belum tidur? Aku melirik jam tangan. Pukul 01.15 pagi.
​Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku keluar kamar dengan kaki telanjang, berusaha tidak membuat suara di atas lantai kayu yang berderit. Sampai di ambang pintu dapur, aku mematung.
​Pak Darmo masih duduk di posisi yang sama. Persis. Dia tidak bergerak sedikit pun. Rokok kreteknya yang tadi pendek, sekarang utuh kembali di tangannya, seolah baru saja disulut. Dan yang membuat tengkukku meremang adalah cangkir kopi itu. Uapnya jauh lebih tebal sekarang, hampir seperti asap kebakaran kecil yang membumbung ke langit-langit.
​"Pak?" bisikku.
​Beliau tidak menoleh. Tapi dia bicara. "Mas, jangan berdiri di situ. Itu jalannya."
​"Jalan siapa, Pak?"
​Tepat setelah aku bertanya, angin kencang tiba-tiba menghantam rumah, membuat pintu belakang yang terbuka sedikit tadi terbanting keras. BRAK! Lampu minyak di atas meja mati seketika.
​Dalam kegelapan total itu, aku merasakan sesuatu melewati samping badanku. Dingin. Bukan dingin udara, tapi dingin yang hampa. Seperti ada bongkahan es besar yang lewat tapi tidak menyentuh kulitku. Bau tanah basah dan bunga melati yang sangat menyengat memenuhi ruangan. Aku menahan napas, tanganku gemetar mencari pegangan pada dinding kayu.
​"Sudah... sudah lewat," suara Pak Darmo terdengar tenang di tengah kegelapan.
​Aku mendengar bunyi korek api digesek. Nyala api kecil muncul, lalu Pak Darmo menyalakan kembali lampu minyaknya. Aku melihatnya dengan napas tersengal. Dia tampak biasa saja, malah sekarang dia benar-benar meminum kopi dari cangkir itu.
​"Duduk dulu, Mas. Minum air putih," katanya sambil menunjuk gelas di atas meja.
​Aku duduk dengan lemas. Jantungku masih berdegup kencang. "Tadi itu apa, Pak?"
​Pak Darmo menghela napas panjang. Dia meletakkan cangkirnya yang anehnya sekarang benar-benar kosong. "Di sini, batas itu tipis, Mas. Kadang mereka cuma mau lewat. Rumah ini kebetulan dibangun di atas jalur yang mereka pakai sejak dulu. Makanya pintu belakang itu nggak boleh ditutup rapat kalau malam-malam tertentu."
​"Kenapa Bapak nggak pindah saja?" tanyaku spontan.
​Dia tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat lelah. "Pindah ke mana? Saya sudah di sini sebelum Mas lahir. Kami sudah punya kesepakatan. Saya kasih mereka 'jalan' dan sedikit kehangatan dari uap kopi, mereka nggak akan ganggu saya."
​Aku terdiam. Penjelasan itu terasa sangat tidak masuk akal bagi logikaku sebagai orang kota. Tapi apa yang baru saja kurasakan—hawa dingin yang lewat itu—nyata. Sangat nyata.
​"Tapi Pak, kopi tadi... kenapa uapnya nggak berhenti-berhenti?"
​Pak Darmo menatap cangkirnya yang kosong. "Mereka suka baunya. Selama uapnya masih ada, mereka tahu saya menyambut. Kalau kopinya dingin sebelum mereka lewat, itu artinya saya sudah nggak mau berteman lagi. Dan percayalah, Mas, kamu nggak mau tahu apa yang terjadi kalau mereka merasa nggak disambut."
​Sisa malam itu aku habiskan dengan duduk di dapur bersama Pak Darmo. Kami tidak banyak bicara. Aku terlalu takut untuk kembali ke kamar sendirian, dan Pak Darmo sepertinya tidak keberatan ditemani.
​Menjelang subuh, kabut mulai menipis. Cahaya kelabu mulai menyelinap masuk. Aku merasa sedikit lebih tenang, meski rasa lelah mulai menyerang. Pak Darmo berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku.
​"Saya mau ke ladang sebentar. Mas kalau mau pergi sekarang, silakan. Tapi jangan lewat jalur setapak yang di sebelah pohon beringin besar itu ya. Ambil jalur yang agak memutar saja."
​Aku mengangguk cepat. Aku memang berencana pergi pagi ini juga. Riset ini bisa kulanjutkan di desa lain yang mungkin lebih... normal.
​Saat aku sedang berkemas di kamar, aku teringat sesuatu. Tasku tertinggal di dapur dekat amben tempat duduk Pak Darmo tadi. Aku kembali ke sana. Dapur itu kosong, Pak Darmo sudah berangkat. Aku mengambil tasku, tapi mataku terpaku pada cangkir lurik hijau di atas meja.
​Iseng, aku menyentuh pinggiran cangkir itu.
​Seketika aku menarik tanganku kembali. Cangkir itu panas. Sangat panas, seolah baru saja diangkat dari bara api. Padahal sudah tidak ada uap yang keluar. Dan yang lebih aneh lagi, saat aku melongok ke dalamnya, di dasar cangkir itu bukan ampas kopi yang kutemukan.
​Ada gumpalan rambut hitam panjang yang terendam sedikit sisa cairan hitam pekat.
​Aku merasakan mual yang luar biasa. Tanpa pikir panjang, aku menyambar tas dan berlari keluar rumah. Aku tidak pamit, tidak peduli pada sopan santun lagi. Aku terus berlari mengikuti jalan setapak yang ditunjukkan Pak Darmo kemarin saat aku datang, menghindari beringin besar yang dia peringatkan tadi.
​Setelah berjalan sekitar dua jam, aku sampai di desa bawah yang lebih ramai. Aku berhenti di sebuah warung kecil untuk mengatur napas dan mencari tumpangan ke kota. Ibu pemilik warung menatapku dengan heran.
​"Dari atas, Mas?" tanyanya sambil menyodorkan segelas teh hangat.
​"Iya, Bu. Dari rumah Pak Darmo."
​Tiba-tiba suasana warung jadi sunyi. Dua orang bapak-bapak yang sedang merokok langsung menoleh ke arahku. Ibu warung itu meletakkan tekonya dengan pelan.
​"Pak Darmo siapa ya, Mas?"
​"Itu, yang rumahnya paling atas, dekat hutan pinus. Laki-laki tua yang suka pakai sarung kotak-kotak."
​Ibu itu saling pandang dengan bapak-bapak di sudut warung. "Mas... rumah di atas sana itu sudah kosong hampir lima tahun. Pak Darmo yang dulu tinggal di sana sudah meninggal. Jatuh ke jurang waktu mau ambil air."
​Duniaku rasanya berputar. "Nggak mungkin, Bu. Saya menginap di sana dua malam. Tadi pagi saya masih bicara sama dia. Dia bahkan sempat buatkan saya kopi—meski saya nggak minum."
​Bapak-bapak yang memakai caping berdiri dan mendekatiku. "Mas, beneran ketemu Pak Darmo? Dia pesan apa?"
​"Dia... dia cuma bilang jangan tutup pintu belakang karena itu 'jalan' mereka," jawabku dengan suara bergetar.
​Bapak itu menghela napas berat, wajahnya tampak prihatin. "Syukurlah Mas masih bisa keluar. Pak Darmo itu dulu memang penjaga 'jalur'. Tapi sejak dia meninggal, nggak ada lagi yang kasih 'suguhan' di sana. Mungkin dia balik lagi karena ngerasa ada tamu yang butuh perlindungan."
​Aku terdiam seribu bahasa. Tanganku meraba saku jaket, mencari ponselku. Aku teringat sempat mengambil foto suasana dapur semalam saat Pak Darmo sedang melinting rokok, niatnya untuk dokumentasi riset.
​Dengan tangan gemetar, kubuka galeri foto.
​Foto itu ada. Diambil pukul 22.12. Gambarnya agak buram karena minim cahaya. Di sana terlihat amben bambu, meja kayu, dan cangkir lurik hijau yang mengepulkan asap sangat tebal. Tapi di tempat Pak Darmo seharusnya duduk, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah bayangan hitam panjang yang berdiri tepat di belakang cangkir itu, tangannya yang kurus seolah-olah sedang memegang sebatang rokok yang menyala.
​Dan yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel adalah pintu belakang di foto itu. Pintu itu tidak hanya terbuka sedikit. Di balik kegelapan pintu yang terbuka itu, terlihat belasan pasang mata kecil berwarna merah yang sedang mengintip masuk ke dalam dapur.
​"Mas? Mas nggak apa-apa?" suara ibu warung membuyarkan lamunanku.
​Aku segera mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke saku. Aku tidak sanggup melihatnya lebih lama lagi. Aku meminum tehku sampai habis dalam satu tegukan, meski lidahku melepuh karena panas.
​"Saya nggak apa-apa, Bu. Cuma... kopi di sini rasanya beda ya," kataku asal.
​"Beda gimana, Mas?"
​"Enggak... lebih cepat dingin saja."
​Aku segera membayar dan pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pulang ke kota, aku terus memikirkan satu hal. Jika Pak Darmo sudah meninggal lima tahun lalu, siapa yang tadi pagi berpesan padaku untuk tidak melewati jalur beringin besar? Dan siapa sebenarnya yang "menjamu" siapa di rumah itu?
​Sampai sekarang, setiap kali aku mencium bau kopi hitam yang mengepul kuat, aku selalu teringat dapur itu. Aku selalu teringat cangkir lurik hijau itu. Dan aku selalu memastikan, di mana pun aku berada, untuk tidak membiarkan pintu belakang terbuka saat malam tiba.
​Beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan tetap menjadi rahasia gunung. Karena terkadang, penjelasan yang masuk akal justru jauh lebih menakutkan daripada yang tidak masuk akal sama sekali.
​Bagaimana menurutmu? Apakah kamu pernah merasakan hawa dingin yang tidak berasal dari angin? Mungkin saja, sesuatu baru saja lewat di sampingmu saat kamu membaca ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar