Kamis, 08 Mei 2025
Rahasia di Balik Cermin Tua
Di sudut terpencil desa Sukamulya, tersembunyi sebuah rumah tua yang telah lama ditinggalkan, dikenal sebagai “Rumah Pak Wirya.” Rumah itu berdiri sendirian, dikelilingi pohon-pohon beringin raksasa, dengan dinding kayu yang mulai lapuk dan jendela-jendela pecah yang tampak seperti mata kosong menatap malam. Warga desa selalu berbisik tentang kutukan yang menyelimuti tempat itu—siapa pun yang masuk setelah senja, katanya, tak akan lagi menjadi dirinya sendiri.Sebagai penulis lepas yang tergoda oleh misteri, aku memutuskan untuk menyelami rumah itu suatu malam. Dengan senter, kamera, dan buku catatan, aku melangkah masuk, mengabaikan peringatan Mbok Sari, seorang nenek desa yang bergumam, “Jangan ganggu yang tak terlihat, Nak.” Aku tertawa dalam hati, yakin itu hanya cerita untuk menakuti anak-anak.Pintu depan berderit membukakan jalan ke dalam. Udara dingin menyelinap ke tulangku, bercampur aroma debu dan kayu tua. Senterku menerangi ruangan: meja makan reyot, kursi patah, dan sebuah cermin besar dengan bingkai ukir retak yang menarik perhatianku. Tangga kayu menuju lantai dua terdengar berderit di setiap langkahku, seolah rumah itu hidup dan mengeluh.Di lantai atas, aku menemukan kamar kecil dengan ranjang besi berkarat dan meja tua. Di atas meja itu tergeletak buku harian kulit usang. Aku membukanya, dan tulisan tangan yang kacau menyapaku: “Mereka menunggu di balik cermin. Jangan lihat terlalu lama, atau mereka akan mengenalmu.” Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke cermin di lantai bawah yang tadi kulihat, merasa ada sesuatu yang tak beres.Saat aku mengangkat kamera untuk memotret buku itu, lampu kilat menyala—dan suara langkah pelan terdengar dari bawah. Tap… tap… tap… Aku mematikan senter, berusaha menyatu dengan kegelapan. Langkah itu berhenti di tangga, diikuti bisikan dingin di telingaku, “Kau tak seharusnya di sini…”Panik, aku berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah tanpa menoleh. Keesokan harinya, aku memeriksa foto-foto. Gambar buku harian tampak jelas, tapi satu foto membuatku membeku: di cermin besar, bayangan seorang pria tua dengan mata kosong menatapku, meski aku yakin sendirian malam itu.Aku tak pernah kembali ke Rumah Pak Wirya. Tapi setiap malam, aku merasa ada yang mengawasi dari kegelapan, menunggu. Apakah itu hanya bayangan pikiranku, atau ada yang terbangun dari rumah tua itu?Siapa pria tua di cermin itu, dan apa yang dia inginkan?Jika kau berani, cobalah mencari jawabannya. Tapi ingat kata Mbok Sari—jangan ganggu yang tak terlihat.Ada kisah misterius dari tempat terbengkalai di dekatmu? Ceritakan di kolom komentar, atau mungkin kau ingin menyelami rahasia itu sendiri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar