> “Kalau malam, jangan naik ke loteng. Biarkan saja kalau terdengar suara.”
Awalnya mereka menganggap itu hanya candaan atau peringatan tidak penting. Tapi malam pertama saja, suara itu sudah terdengar—langkah kaki pelan, seperti seseorang berjalan bolak-balik di atas langit-langit.
Adi mengecek keesokan paginya. Anehnya, rumah itu tidak punya akses ke loteng. Tak ada tangga atau pintu menuju ke sana. Lotengnya tertutup rapat, tanpa celah.
Setiap malam, suara itu muncul. Kadang hanya langkah, kadang seperti suara seretan, atau dentingan kecil seperti benda logam jatuh. Rani mulai ketakutan dan meminta pindah, tapi Adi bersikeras bertahan sampai akhir bulan.
Pada malam ke-12, suara itu berubah. Terdengar seperti bisikan, tepat di atas kamar mereka. Rani menangis, dan Adi pun menyerah. Mereka pindah keesokan harinya.
Beberapa minggu kemudian, rumah itu disewakan lagi. Namun penghuni baru hanya bertahan lima hari sebelum pergi tanpa penjelasan.
Konon, rumah itu dulunya tempat tinggal seorang wanita tua yang meninggal dalam kesepian—dan mayatnya baru ditemukan berminggu-minggu kemudian, setelah tetangga mencium bau busuk dari loteng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar