Lebih mengejutkan lagi, nama pengirimnya adalah... Rama.
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu. Surat itu ditulis tangan, dengan gaya tulisan yang persis seperti miliknya. Isi suratnya singkat, namun menghantam batinnya seperti palu:
> “Kalau kamu membaca ini, berarti kamu belum terlambat. Jangan biarkan Ayah pergi pada tanggal 20 Januari. Apa pun yang terjadi, cegah dia. Waktu tidak akan mengulang kesalahan yang sama dua kali.”
Rama kebingungan. Ayahnya masih hidup, meski sudah sepuh. Tapi tanggal 20 Januari tinggal tiga hari lagi. Apakah ini lelucon? Atau... apakah memang ada sesuatu yang mengerikan akan terjadi?
Ia mencoba mengabaikannya. Tapi malam itu, ia bermimpi buruk—mimpi tentang kecelakaan mobil, sirene ambulan, dan suara ayahnya yang memanggil namanya dari kejauhan.
Pagi berikutnya, Rama memutuskan untuk bertindak. Ia membatalkan rencana perjalanan ayahnya ke luar kota. Sang ayah sempat kesal, tapi menuruti permintaannya karena Rama bersikeras.
Dua hari kemudian, berita kecelakaan besar terjadi di jalur yang seharusnya dilewati sang ayah. Semua penumpang tewas.
Rama terduduk lemas, menatap surat yang kini lusuh di tangannya. Ia masih tak tahu dari mana surat itu datang, atau siapa yang mengirimkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar