Selasa, 13 Mei 2025
Lorong Bawah Tanah yang Berbisik
Di tengah hutan terpencil di lereng Gunung Salak, tersembunyi sebuah kapel tua yang ditinggalkan sejak era kolonial. Bangunan itu sudah rapuh, atapnya bolong, dan pintu utamanya terkunci dengan rantai berkarat. Namun, yang membuat bulu kuduk berdiri adalah cerita tentang lorong bawah tanah di bawah kapel itu—lorong yang konon hanya terbuka saat bulan purnama, dan selalu mengeluarkan suara bisikan yang memanggil nama siapa saja yang mendekat.Ardi, seorang petualang sekaligus YouTuber misteri, memutuskan untuk menjelajahi kapel itu pada malam bulan purnama. Bersama dua temannya, Bima dan Lia, mereka membawa kamera, senter, dan perekam suara. Begitu sampai, suasana hutan terasa mencekam. Angin malam membawa suara desis aneh, seolah ada yang mengintip dari balik pepohonan.Mereka berhasil membuka pintu kapel dengan linggis. Di dalam, bau apak menyengat, dan patung Yesus di altar tampak menatap mereka dengan ekspresi yang terasa hidup. Ardi menemukan sebuah lempengan batu di lantai yang sedikit bergeser. Bersama-sama, mereka mengangkat lempengan itu, dan benar saja, sebuah tangga sempit menuju lorong bawah tanah terlihat, menghilang dalam kegelapan.Saat mereka turun, suhu udara tiba-tiba menjadi sangat dingin. Dinding lorong dipenuhi ukiran simbol-simbol aneh, beberapa menyerupai wajah yang sedang menjerit. Langkah mereka terhenti saat perekam suara Lia menangkap bisikan, “Lia… tinggal di sini…” Lia langsung panik, tapi Ardi berusaha menenangkannya, mengatakan itu mungkin hanya efek angin.Namun, suasana semakin mencekam ketika lampu senter Bima tiba-tiba mati, dan dari ujung lorong, mereka melihat sesosok bayangan tinggi tanpa wajah bergerak perlahan mendekat. Kamera Ardi menangkap suara langkah berat yang tidak sesuai dengan gerakan bayangan itu. Tiba-tiba, Bima berteriak—ia merasa ada yang mencengkeram kakinya, tapi saat mereka menyinari lantai, tak ada apa-apa selain tetesan air yang berbau amis.Ketiganya berlari kembali ke tangga, tapi tangga itu kini tertutup lempengan batu yang entah bagaimana telah kembali ke tempatnya. Di tengah kepanikan, bisikan itu semakin keras, kini memanggil nama mereka bertiga berulang-ulang: “Ardi… Bima… Lia… kalian milikku…” Cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah kapel tiba-tiba memudar, dan kegelapan total menyelimuti mereka.Pagi harinya, warga setempat menemukan kamera Ardi di tepi hutan, masih menyala dengan baterai yang hampir habis. Rekaman terakhir menunjukkan lorong bawah tanah, ukiran wajah yang tampak bergerak perlahan, dan bayangan tanpa wajah itu kini berdiri tepat di depan kamera, sebelum layar menjadi hitam. Ardi, Bima, dan Lia tak pernah ditemukan, tapi setiap bulan purnama, warga sekitar hutan bersumpah mendengar bisikan dari arah kapel tua itu—kini memanggil nama baru.Apakah lorong bawah tanah itu menyimpan rahasia kelam dari masa lalu? Atau ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang menunggu di dalam kegelapan?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar