Minggu, 18 Januari 2026

Aroma Tanah Basah dan Sesuatu yang Salah di Balik Pohon Kiara


​Jempol kakiku sudah mati rasa sejak satu jam yang lalu. Sandal gunung yang kupakai ternyata nggak cukup kuat menahan rembesan air dari tanah hutan yang beceknya minta ampun. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Pilihannya cuma dua: terus jalan atau berhenti dan risiko kedinginan di tengah jalur pendakian yang—jujur saja—aku sendiri sudah tidak yakin ini masih di jalur yang benar.

​Hutan di lereng gunung ini, kalau boleh aku bilang, punya karakter yang aneh. Sejak masuk lewat gerbang desa tadi pagi, rasanya ada yang beda. Biasanya kalau naik gunung, makin tinggi kita mendaki, makin riuh suara serangga. Tapi di sini? Sepi. Sepi yang bikin telinga berdenging.

​"Wan, lu ngerasa nggak sih? Ini udah jam empat sore tapi gelapnya kayak udah jam enam lewat," kataku, mencoba memecah kesunyian yang mulai terasa menekan dada.

​Iwan, yang jalan dua meter di depanku, nggak langsung jawab. Dia cuma berhenti sebentar, mengatur napasnya yang kedengaran berat banget. Dia menoleh, mukanya pucat, keringat dingin bercampur air hujan membasahi pelipisnya.

​"Mungkin karena tajuk pohonnya terlalu rapat, Di," jawabnya pendek. Dia nggak menatap mataku. Pandangannya malah liar ke arah semak-semak di sisi kiri kami.

​"Lu denger sesuatu?" tanyaku lagi.

​"Enggak. Justru karena gue nggak denger apa-apa itu yang aneh. Burung-burung pada ke mana, ya?"

​Aku menarik napas panjang. Bau tanah di sini tajam sekali. Bukan bau tanah basah yang segar seperti habis hujan di kota, tapi lebih ke arah bau busuk yang samar. Seperti ada sesuatu yang mati, tapi sudah lama sekali dan menyatu dengan lumut.

​Kami terus berjalan. Tapi anehnya, jalan setapak yang tadinya jelas, sekarang mulai tertutup akar-akar raksasa yang melintang. Aku sempat berpikir, apa kami salah ambil percabangan di dekat pohon kiara besar tadi? Tapi seingatku, di peta yang diberikan kakek penjaga pos di bawah, jalurnya lurus saja.

​"Tunggu, Wan." Aku memegang bahu Iwan.

​"Apa lagi?" Suaranya agak meninggi, ada nada panik yang mulai bocor di sana.

​"Kita udah ngelewatin batu ini tiga kali." Aku menunjuk sebuah batu besar yang permukaannya tertutup lumut merah. Aku tahu itu batu yang sama karena ada bekas goresan pisau di sudutnya—bekas yang aku buat secara iseng waktu lewat pertama kali tadi.

​Iwan terdiam. Dia melihat batu itu, lalu melihat ke sekeliling. "Nggak mungkin. Kita jalan lurus terus, Di. Gue nggak ngerasa kita muter balik."

​"Tapi kenyataannya ini batunya, Wan."

​Kami berdua berdiri di sana, di tengah remang-remang hutan yang makin gelap. Angin tiba-tiba berhembus, tapi tidak dingin. Rasanya justru hangat, seperti napas seseorang yang ditiupkan ke tengkukku. Aku merinding hebat. Bukan karena takut setan seperti di film-film, tapi karena rasanya ada logika yang patah di sini.

​"Kita buka tenda di sini aja," kata Iwan tiba-tiba. Suaranya gemetar.

​"Di sini? Jalurnya miring begini, Wan. Lagian ini belum sampai puncak bayangan."

​"Gue nggak peduli. Gue nggak mau jalan lagi. Kaki gue... kaki gue kayak berat banget, Di. Kayak ada yang megangin."

​Aku melihat ke arah kakinya. Tidak ada apa-apa selain lumpur. Tapi ekspresi Iwan nggak bohong. Dia benar-benar ketakutan. Akhirnya aku mengalah. Kami mendirikan tenda seadanya di sela-sela akar pohon yang agak rata. Sumpah, memasang pasak di tanah ini rasanya aneh. Tanahnya empuk, terlalu empuk, seolah-olah di bawah lapisan daun-daun kering ini bukan tanah keras, tapi tumpukan sesuatu yang lain.

​Malam jatuh dengan sangat cepat. Dan itu adalah malam paling sunyi yang pernah aku alami.

​Kami tidak berani menyalakan api unggun yang besar, cuma kompor lapangan kecil buat masak mi instan. Itu pun nggak ada yang nafsu makan. Kami cuma duduk berhadapan di depan pintu tenda yang terbuka sedikit, menatap kegelapan di luar.

​"Lu denger itu?" Iwan berbisik.

​"Denger apa?"

​"Suara... ketawa? Bukan, kayak suara orang lagi bisik-bisik, tapi banyak banget."

​Aku mempertajam pendengaran. Awalnya cuma suara angin yang menggesek daun. Tapi kemudian, aku mendengarnya. Sshhh... ssshhhh... ki... ki... Suara itu datang dari segala arah. Bukan suara manusia, tapi nadanya mirip sekali dengan intonasi orang yang lagi ngerumpi di kejauhan.

​"Itu mungkin cuma gesekan ranting, Wan. Tidur yuk, biar besok pagi kita bisa cari jalan balik," kataku, mencoba menenangkan diri sendiri.

​Kami masuk ke dalam sleeping bag. Iwan langsung meringkuk, membelakangiku. Aku sendiri nggak bisa tidur. Pikiranku melayang ke cerita-cerita orang desa soal 'Hutan Larangan' yang ada di gunung ini. Katanya, kalau kamu mendengar suara orang memanggil namamu, jangan menoleh. Kalau kamu merasa jalanmu memutar, balikkan bajumu.

​Ah, takhayul, pikirku waktu itu. Tapi sekarang? Aku nggak yakin.

​Sekitar jam satu pagi, aku terbangun karena suara sesuatu yang berat diseret di luar tenda. Srak... srak... srak...

​Aku membeku. Iwan masih mendengkur halus di sebelahku. Suara itu makin dekat. Jelas sekali itu suara sesuatu yang besar melintas di atas tumpukan daun kering. Lalu, suara itu berhenti tepat di depan tenda kami.

​Aku bisa melihat bayangan dari luar melalui kain tenda yang tipis. Cahaya bulan yang pucat membentuk siluet sesuatu yang tinggi... tinggi sekali. Kepalanya hampir setinggi dahan pohon pertama. Dan yang membuat jantungku rasanya mau copot adalah bayangan itu tidak punya tangan. Hanya batang tubuh yang panjang dan sesuatu yang menjuntai dari bagian kepalanya.

​Bayangan itu diam. Lama sekali.

​Lalu, terdengar suara. Bukan bisikan lagi. Tapi suara Iwan.

​"Di... buka pintunya, Di... dingin..."

​Aku tersentak. Aku menoleh ke sampingku. Iwan masih ada di sana, tidur pulas dalam sleeping bag-nya. Suara yang di luar itu... itu suara Iwan yang persis sama, tapi nadanya datar, tanpa emosi.

​"Di... buka, Di... gue di luar..."

​Keringat dingin membanjiri punggungku. Aku menutup mulut dengan tangan, menahan agar tidak berteriak. Siapa yang ada di luar? Kalau Iwan ada di sini, terus yang di luar itu siapa?

​Suara itu terus mengulang kalimat yang sama selama hampir sepuluh menit. Sampai akhirnya, bayangan itu perlahan menjauh, masuk kembali ke dalam kegelapan hutan.

​Begitu matahari muncul—meskipun sinarnya cuma remang-remang yang menembus kabut—aku langsung membangunkan Iwan. Aku nggak cerita soal kejadian semalam, aku cuma bilang kita harus pergi sekarang juga.

​"Kita nggak usah ke puncak, Wan. Kita turun sekarang," kataku sambil packing secepat kilat.

​Iwan cuma mengangguk lesu. Matanya merah, kayak orang nggak tidur semalaman. Dia nggak banyak tanya, seolah-olah dia juga merasakan ada yang salah tapi nggak berani ngomong.

​Kami mulai berjalan turun. Tapi hutan ini seolah berubah. Jalur yang kemarin kami lalui sudah tidak ada. Yang ada cuma deretan pohon kiara yang bentuknya hampir identik satu sama lain. Setiap beberapa puluh meter, kami menemukan gundukan tanah yang di atasnya ditaburi bunga kamboja yang masih segar. Padahal, mana ada pohon kamboja tumbuh di tengah hutan gunung seperti ini?

​"Di, lihat itu," Iwan menunjuk ke bawah sebuah pohon besar.

​Di sana, tergeletak sebuah tas carrier. Warnanya merah, sudah sangat kusam dan tertutup lumut. Aku mendekat dengan hati-hati. Di sebelah tas itu, ada sepatu bot yang sudah hancur.

​"Ini punya siapa?" bisik Iwan.

​Aku memberanikan diri membuka kantong kecil di tas itu. Di dalamnya ada sebuah dompet kulit yang sudah lapuk. Begitu aku buka, ada KTP di dalamnya.

​Darahku serasa berhenti mengalir.

​Foto di KTP itu... itu foto Iwan. Nama yang tertera di sana: Iwan Setiawan. Tapi alamat dan tanggal lahirnya berbeda dengan Iwan yang ada di depanku sekarang.

​Aku menoleh perlahan ke arah Iwan. Dia cuma berdiri di sana, menatap tas itu dengan tatapan kosong.

​"Wan?" suaraku gemetar.

​"Itu punya gue, Di," katanya pelan. Sangat pelan.

​"Maksud lu apa? Lu kan di sini."

​Iwan menatapku. Senyumnya perlahan mengembang, tapi itu bukan senyum manusia. Sudut mulutnya naik terlalu tinggi, sampai hampir menyentuh telinganya. "Gue yang di sini... atau gue yang di sana?"

​Detik itu juga, aku lari. Aku nggak peduli lagi sama barang-barangku. Aku lari sekencang mungkin, menabrak semak berduri, melompati akar pohon, nggak peduli arah. Aku bisa mendengar suara tawa di belakangku, suara tawa yang terdiri dari puluhan suara manusia yang berbeda-beda, semuanya menyatu jadi satu koor yang memekakkan telinga.

​Aku terus lari sampai napas rasanya mau habis. Sampai akhirnya, kakiku tersangkut sesuatu dan aku terguling jatuh ke sebuah lereng kecil. Semuanya jadi gelap.

​Aku terbangun di sebuah balai-balai bambu. Bau minyak kayu putih dan asap kemenyan menusuk hidungku. Seorang kakek tua duduk di sudut ruangan, sedang melinting rokok nipah.

​"Sudah bangun, Le?" tanyanya tanpa menoleh.

​Aku berusaha duduk. Badanku sakit semua. "Mbah... teman saya mana? Iwan?"

​Kakek itu diam sebentar, lalu mengembuskan asap rokoknya pelan-pelan. "Kamu naik sendirian, Le. Dari kemarin saya lihat kamu jalan masuk ke hutan itu cuma bawa tas satu. Nggak ada temanmu."

​"Nggak mungkin, Mbah! Iwan naik sama saya! Kami berangkat bareng dari kota!" teriakku histeris.

​Kakek itu menatapku dengan iba. Dia mengambil sesuatu dari atas meja kecil di sampingnya. Sebuah dompet kulit yang sudah lapuk. Dompet yang aku temukan di hutan tadi.

​"Ini kamu bawa waktu warga nemuin kamu pingsan di pinggir sungai. Hutan itu... dia nggak suka orang asing. Kadang dia 'meminjam' ingatan kita buat nemenin kita jalan di sana. Biar kita nggak ngerasa sendirian sebelum akhirnya kita jadi bagian dari dia."

​Aku terdiam. Tanganku gemetar saat menerima dompet itu. Begitu aku buka, foto di KTP-nya sudah hilang. Kosong. Cuma ada selembar kertas kecil yang tintanya sudah hampir luntur.

​Tulisannya cuma satu kalimat: Jangan pernah menoleh ke belakang kalau sudah sampai di pohon kiara ketiga.

​Sampai sekarang, aku sudah kembali ke kota. Aku menjalani hidup seperti biasa. Tapi setiap kali aku bercermin, aku sering merasa ada yang aneh dengan bayanganku. Kadang, bayanganku di cermin tersenyum duluan sebelum aku benar-benar tersenyum.

​Dan yang paling membuatku nggak bisa tidur setiap malam adalah ini: Aku mencoba menghubungi orang tua Iwan di kampungnya. Mereka bilang, mereka nggak punya anak yang namanya Iwan. Mereka sama sekali nggak kenal siapa itu Iwan.

​Lalu, siapa yang menemaniku mendaki selama dua hari itu? Siapa yang fotonya kulihat di KTP itu?

​Kadang, saat suasana sedang sepi di kamar, aku bisa mendengar suara itu lagi. Suara bisikan di balik tembok yang bunyinya selalu sama.

​"Di... buka, Di... dingin..."

​Aku cuma bisa meringkuk di bawah selimut, berharap matahari cepat terbit. Karena aku tahu, di luar sana, di tengah hutan yang jauh itu, ada sesuatu yang masih memakai wajah 'Iwan' dan dia sedang menungguku untuk kembali menjemput dompetnya yang tertinggal.

​Mungkin besok aku harus kembali ke sana. Bukan untuk mencari jawaban, tapi karena aku merasa sebagian dari diriku... memang sudah tertinggal di sana, tertanam di bawah akar pohon kiara yang tanahnya terlalu empuk itu.

Sabtu, 17 Januari 2026

Aroma Kunyit dan Tanah Basah di Desa Tanpa Suara


​Seharusnya aku tidak berhenti di sana. Seharusnya aku terus saja memacu motor tuaku sampai ke kota kecamatan, meski pinggang rasanya mau patah dan bensin tinggal satu strip. Tapi kabut di lereng ini beda. Dia tidak pelan-pelan turun, tapi seperti tumpah begitu saja dari langit, menutup pandangan sampai jarak satu meter pun tidak kelihatan.

​Lalu, bau itu muncul. Bau kunyit. Tajam sekali, seperti ada yang baru saja memarut rimpang itu tepat di depan hidungku. Aneh, pikirku. Di ketinggian begini, di tengah hutan pinus yang seharusnya bau getah, kenapa malah bau bumbu dapur?

​Aku menepi. Mesin motor kumatikan. Sunyi langsung menyergap, tipe sunyi yang bikin telinga berdenging. Di balik kabut yang mulai menipis, aku melihat gapura kayu—kalau boleh disebut gapura. Hanya dua batang kayu jati tua yang dipasang melintang, tanpa ukiran, tanpa tulisan "Selamat Datang". Di baliknya, jalan setapak berbatu menurun tajam.

​"Permisi..." suaraku terdengar cempreng di tengah kesunyian itu. Tidak ada jawaban.

​Aku menuntun motor, mengikuti insting saja. Mungkin ada bengkel, atau setidaknya warung buat beli bensin eceran dan segelas kopi hitam. Setelah tikungan tajam, kabut itu mendadak hilang, seperti ditarik tangan tak terlihat. Di bawah sana, sebuah desa membentang.

​Rumah-rumahnya seragam. Atapnya dari rumbia hitam, dindingnya anyaman bambu yang sudah kelabu dimakan usia. Tidak ada kabel listrik yang melintang. Tidak ada suara radio, tidak ada gonggongan anjing, bahkan suara ayam pun tidak ada. Padahal matahari sudah hampir tenggelam.

​"Cari siapa, Mas?"

​Aku hampir melompat. Di samping sebuah sumur tua, seorang perempuan berdiri. Dia memakai kebaya lurik yang warnanya sudah pudar, sedang memegang tampah berisi irisan kunyit. Oh, jadi ini sumber baunya.

​"Eh, anu... bensin saya mepet, Bu. Ada yang jual bensin eceran di sini?" tanyaku sambil berusaha menenangkan jantung yang masih berdegup kencang.

​Perempuan itu diam sebentar. Matanya tidak benar-benar menatapku, melainkan menatap bahu kiriku. Agak lama. "Di sini tidak ada bensin. Orang sini tidak pakai mesin."

​Suaranya datar. Tidak galak, tapi tidak ramah juga. Dingin.

​"Waduh. Terus kalau mau keluar ke jalan raya lewat mana ya, Bu? Saya kayaknya salah ambil jalan tadi."

​Dia menunjuk ke arah jalan setapak yang baru saja kulewati dengan dagunya. "Jalan tadi itu satu-satunya. Tapi kalau sudah jam segini, jangan naik lagi. Kabutnya jahat. Mas menginap saja di rumah Pak Tua di ujung sana."

​Aku melihat ke arah yang ditunjuknya. Sebuah rumah yang sedikit lebih besar dari yang lain, berdiri agak menjorok ke arah tebing. Aku ingin menolak. Sungguh, ada sesuatu yang salah dengan tempat ini. Tapi saat aku melihat ke arah langit, warna oranye itu sudah berganti jadi ungu gelap yang mengancam. Dan kabut di atas sana... dia seperti tembok padat yang tidak mungkin ditembus.

​"Terima kasih, Bu," kataku pelan. Dia tidak menjawab, malah kembali sibuk dengan kunyitnya.

​Pak Tua itu—aku tidak pernah tahu namanya—menerimaku tanpa sepatah kata pun. Dia hanya mengangguk saat aku minta izin menumpang semalam, lalu memberiku sebuah kamar kecil di bagian belakang rumah. Kamarnya bersih, tapi baunya sama: kunyit dan tanah basah.

​Kami makan malam dalam diam. Hanya ada nasi putih, rebusan daun singkong, dan sambal mentah. Pak Tua itu makan dengan sangat pelan. Setiap kunyahan seolah-olah adalah sebuah ritual. Dia tidak pernah melepaskan capingnya, bahkan di dalam rumah yang remang-remang karena hanya diterangi pelita minyak.

​"Jangan keluar setelah lampu dimatikan," katanya tiba-tiba. Itu kalimat pertama yang dia ucapkan sejak aku masuk.

​"Kenapa, Pak? Banyak binatang buas?"

​Dia berhenti mengunyah. Matanya yang keruh menatapku lewat sela-sela pinggiran caping. "Bukan. Mereka cuma tidak suka kalau ada yang berjalan-jalan saat mereka sedang... bekerja."

​"Mereka?"

​Pak Tua tidak menjawab. Dia membereskan piringnya, mematikan pelita di meja makan, dan membiarkanku terpaku dalam gelap sebelum aku sempat mengambil senter dari tas.

​Aku masuk ke kamar dengan perasaan tidak enak yang luar biasa. Aku merebahkan diri di balai-balai bambu yang keras. Mataku sulit terpejam. Di luar, suara angin mulai menderu, tapi anehnya, pohon-pohon di sekitar rumah tidak terdengar berdesik.

​Sekitar jam satu pagi, aku terbangun. Bukan karena suara, tapi karena ketiadaan suara. Benar-benar hampa. Lalu, pelan-pelan, aku mendengar sesuatu dari arah luar dinding bambu kamarku.

Srak... srak... srak...

​Seperti suara sesuatu yang diseret di atas tanah. Pelan dan ritmis. Aku menempelkan telinga ke dinding bambu. Suara itu makin jelas. Dan bukan cuma satu, tapi banyak. Dari segala arah, suara seretan itu menuju ke tengah desa.

​Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku—sebuah kebodohan yang sering kusesali belakangan. Aku mengintip lewat celah anyaman bambu yang sedikit renggang.

​Di luar, dalam keremangan cahaya bulan yang tertutup awan tipis, aku melihat mereka. Penduduk desa. Mereka semua keluar dari rumah. Semuanya memakai pakaian yang sama, kain lurik kusam. Mereka tidak berjalan seperti biasa. Kaki mereka tidak diangkat, tapi diseret di atas tanah. Itu sebabnya suaranya begitu aneh.

​Mereka berkumpul di lapangan tengah desa. Di sana, mereka mulai melakukan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Mereka berjongkok, lalu mulai menggali tanah dengan tangan kosong. Tidak ada percakapan. Tidak ada instruksi. Hanya suara kuku yang beradu dengan tanah keras dan sesekali suara napas yang berat.

​Lalu, perempuan yang kutemui di sumur tadi muncul di tengah lingkaran. Dia membawa tampah besar berisi irisan kunyit. Dia menaburkannya ke dalam lubang-lubang yang mereka gali.

​Aku menahan napas saat melihat apa yang mereka keluarkan dari dalam tanah. Bukan harta karun. Bukan juga mayat—setidaknya bukan mayat utuh. Mereka mengeluarkan potongan-potongan kain putih yang sudah kecokelatan, membukanya, lalu menggosokkan kunyit ke sesuatu di dalamnya.

​Apakah itu tulang? Aku tidak yakin. Bentuknya lebih seperti... akar kayu yang menyerupai bagian tubuh manusia.

​Tiba-tiba, Pak Tua yang memberiku tumpangan berdiri tepat di depan celah intipanku. Aku tahu dia tidak bisa melihatku di dalam kegelapan kamar, tapi dia berhenti tepat di sana. Kepalanya miring ke kiri, seolah sedang mendengarkan detak jantungku yang menggila.

​"Belum tidur, Nak?" bisiknya. Suaranya tepat di balik dinding bambu, hanya beberapa sentimeter dari telingaku.

​Aku membeku. Aku bahkan tidak berani mengembuskan napas. Aku mundur perlahan, naik kembali ke balai-balai, dan meringkuk di bawah selimut tipis yang baunya apek. Suara seretan itu berlanjut sampai subuh. Srak... srak... srak...

​Pagi hari, desa itu tampak normal kembali. Setidaknya se-normal desa tanpa suara bisa terlihat. Kabut sudah terangkat, menyisakan pemandangan lembah yang hijau dan segar. Tapi bau kunyit itu masih ada, lebih tajam dari kemarin.

​Pak Tua sedang duduk di ambang pintu, menyeruput cairan bening dari batok kelapa.

​"Jalannya sudah bersih. Kau bisa pergi sekarang," katanya tanpa menoleh.

​Aku tidak banyak tanya. Aku segera menyambar tas dan menuju motor. Saat melewati lapangan tengah desa, aku melihat tanahnya rata. Tidak ada bekas galian sama sekali. Rapi, seolah kejadian semalam cuma mimpi buruk akibat kelelahan.

​Namun, saat aku menuntun motor melewati sumur tua tempat perempuan itu berdiri kemarin, aku melihat sesuatu di bawah pohon kamboja. Sebuah benda kecil tergeletak di tanah.

​Aku membungkuk, mengambilnya. Itu adalah irisan kunyit. Tapi saat aku memegangnya, teksturnya bukan seperti umbi. Kenyal, sedikit hangat, dan ada serat-serat halus seperti pembuluh darah. Di salah satu ujungnya, ada kuku manusia yang masih menempel, kuning kena noda kunyit.

​Jantungku rasanya mau copot. Itu bukan akar. Itu jari.

​Aku segera membuang benda itu dan menghidupkan motor. Aku tidak peduli lagi kalau mesinnya akan mati di tengah jalan. Aku memacu motorku menanjak ke arah gapura kayu sekuat tenaga.

​Saat aku sampai di puncak, di titik di mana aku pertama kali melihat desa itu, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

​Desa itu hilang.

​Yang ada hanya lembah curam penuh pohon pinus yang rapat. Tidak ada atap rumbia, tidak ada jalan setapak, tidak ada asap dapur. Hanya kabut putih yang mulai merayap naik kembali, pelan dan pasti.

​Aku meraba saku jaketku, berniat mengambil ponsel untuk memastikan koordinat GPS-ku. Tapi jariku menyentuh sesuatu yang kasar di dasar saku. Aku menariknya keluar.

​Irisan kunyit.

​Benda itu ada di dalam sakuku. Dan yang membuatku lemas, saat aku melihat telapak tanganku, noda kuning dari kunyit itu tidak bisa hilang meski sudah kuseka berkali-kali ke celana. Noda itu justru mulai menyebar, merayap ke arah pergelangan tanganku, terasa hangat dan sedikit berdenyut.

​Aku segera memacu motor tanpa berani berhenti lagi. Sampai sekarang, setiap kali aku mencium bau kunyit di dapur atau di pasar, tanganku selalu mulai berdenyut. Dan terkadang, kalau suasana sedang sangat sepi, aku merasa seolah mendengar suara halus di belakang telingaku.

Srak... srak... srak...

​Mungkin mereka belum selesai bekerja. Atau mungkin, mereka sedang menunggu bagian dari diriku yang tertinggal di sana untuk dikubur kembali.

Apakah kamu ingin aku melanjutkan cerita ini dengan menceritakan apa yang terjadi pada tangan tokoh utamanya setelah beberapa hari berlalu?

Jumat, 16 Januari 2026

Aroma Tanah Basah dan Sesuatu yang Salah di Sini


​Entah kenapa, baunya masih nempel di hidung sampai sekarang. Bukan bau bangkai yang menyengat atau bau kembang melati yang sering ada di film-film. Bukan itu. Ini bau tanah basah yang... amis. Seperti ada sesuatu yang baru saja dikubur hidup-hidup, tapi tanahnya nggak mau menerima.

​Waktu itu tahun 2018. Aku baru saja lulus kuliah dan merasa terlalu idealis untuk langsung kerja kantoran di Jakarta. Akhirnya, aku ambil tawaran proyek survei pemetaan di sebuah desa di pelosok Jawa Tengah. Namanya Desa Kalimati—ironis memang, karena di sana air melimpah, tapi suasananya sepi seolah-olah semua orang sedang menahan napas.

​"Mas, kalau sudah lewat jam lima, mending di rumah saja. Nggak usah ke arah bukit," kata Pak RT waktu itu, sambil nyeruput kopi hitamnya yang kental sekali.

​Aku cuma mengangguk sopan. Tipikal orang kota, aku menganggap itu cuma peringatan soal binatang buas atau mungkin karena jalannya yang belum ada lampu. Lagipula, aku ini orangnya logis. Mana percaya yang begitu-begitu.

​Sore itu gerimis. Kecil saja, tapi bikin udara jadi lembap dan lengket di kulit. Aku terpaksa jalan kaki dari ujung desa karena motor inventarisku mogok di dekat jembatan kayu. Sial banget.

​Jarak ke rumah kontrakan sebenarnya cuma dua kilometer, tapi jalannya menanjak dan kanan-kirinya pohon jati yang sudah meranggas. Daun-daun keringnya kalau terinjak suaranya berisik banget, krek... krek... seolah-olah ada yang ngikutin dari belakang tapi setiap aku menoleh, cuma ada bayangan pohon yang bergoyang kena angin.

​Lalu aku melihat dia.

​Di tengah jalan yang sepi itu, ada seorang perempuan paruh baya pakai kebaya lusuh warna hijau lumut. Dia lagi jongkok di pinggir parit. Tangannya sibuk meraba-raba sesuatu di dalam air keruh.

​"Permisi, Bu. Cari apa?" tanyaku spontan.

​Dia nggak langsung jawab. Tangannya berhenti bergerak. Pelan-pelan dia menoleh, tapi kepalanya miring ke satu sisi dengan sudut yang... rasanya agak kurang wajar kalau dilakukan manusia normal.

​"Cari yang hilang, Mas," suaranya serak, kayak orang yang sudah lama nggak minum.

​"Hilang apa?"

​"Anak saya. Tadi dia main di sini, terus masuk ke dalam." Dia menunjuk ke arah rimbunan pohon bambu yang gelapnya minta ampun.

​Aku merinding sebentar. Bukan karena hantu, tapi karena ekspresi mukanya yang kosong. Matanya nggak benar-benar melihat ke aku, tapi ke arah leherku. Aku buru-buru pamit. "Oh, iya Bu. Semoga ketemu ya. Saya duluan."

​Aku jalan lebih cepat. Jantungku mulai berdegup nggak beraturan. Ada yang aneh. Desa ini kecil, aku sudah sebulan di sini, tapi aku nggak pernah lihat ibu itu sebelumnya. Dan bajunya... kenapa kering? Padahal gerimis tadi lumayan bikin bajuku sendiri lembap.

​Malamnya, aku nggak bisa tidur. Suara jangkrik di luar terdengar terlalu keras, atau mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Aku mencoba menyalakan laptop untuk mengerjakan laporan, tapi sinyal internet benar-benar nol.

​Tiba-tiba, ada suara ketukan di pintu.

Tok... tok... tok...

​Pelan sekali. Aku melihat jam dinding. Pukul 01.15 pagi. Siapa yang bertamu jam segini?

​"Mas... Mas yang tadi..."

​Itu suara ibu yang di parit. Aku membeku di tempat tidur. Bagaimana dia tahu aku tinggal di sini? Kontrakanku ini agak terpisah dari rumah warga lain.

​Aku mendekat ke arah pintu, tapi nggak berani membukanya. Ada celah kecil di bawah pintu kayu yang sudah agak keropos. Aku mencoba mengintip. Di sana, aku melihat sepasang kaki. Pucat. Dan yang bikin perutku mual, kaki itu nggak menapak di lantai teras. Ada jarak sekitar dua senti antara telapak kaki itu dengan lantai semen.

​Aku mundur pelan-pelan. Nafasku tertahan di tenggorokan.

​"Mas, anak saya sudah ketemu. Tapi dia minta ditemani..."

​Lalu sunyi. Benar-benar sunyi. Bahkan suara jangkrik pun hilang. Yang tersisa cuma suara detak jantungku sendiri yang saking kerasnya sampai terasa sakit di dada.

​Besok paginya, aku langsung menemui Pak RT. Aku ceritakan soal ibu itu, bajunya yang hijau, dan suaranya yang serak. Pak RT diam lama sekali. Dia membakar rokok kreteknya, menghirupnya dalam-dalam sampai ujungnya merah membara.

​"Namanya Bu Warsi," kata Pak RT pelan.

​"Oh, benar ada ya Pak? Syukurlah kalau orang beneran."

​"Dia memang orang beneran, Mas. Dulu. Tahun 90-an anaknya hilang di sungai bawah bukit bambu itu. Bu Warsi stres, setiap sore dia jongkok di parit nyari anaknya. Sampai akhirnya dia sendiri ditemukan meninggal di sana karena jatuh tergelincir."

​Aku merasa seluruh darahku turun ke kaki. Dingin. "Terus... yang saya lihat kemarin?"

​Pak RT cuma menatapku dengan tatapan kasihan. "Mas, Desa Kalimati ini bukan soal hantu-hantuan kayak di TV. Di sini, batas antara yang hidup dan yang nggak itu tipis. Mungkin Mas dianggap 'teman baru' sama dia. Saran saya, jangan keluar rumah kalau dengar suara air mengalir di tempat yang nggak seharusnya."

​Aku nggak paham maksud "suara air mengalir" itu sampai dua hari kemudian.

​Hari terakhirku di desa itu. Aku sudah mengemas semua barang. Aku mau pulang ke Jakarta malam itu juga, masa bodoh dengan laporan yang belum selesai. Aku nggak tahan lagi. Suasana desa ini makin lama makin mencekik.

​Waktu aku lagi memuat tas ke atas motor—yang untungnya sudah benar—aku mendengar suara itu.

Grojok... grojok...

​Seperti suara keran yang dibuka lebar-lebar. Tapi suaranya berasal dari dalam kamarku. Padahal di dalam kamar nggak ada keran air. Kamar mandi ada di belakang, terpisah.

​Aku memberanikan diri masuk. Penasaran bercampur takut yang sudah di ujung kepala.

​Lantai kamarku basah kuyup. Airnya keruh, campur lumpur dan daun bambu yang membusuk. Dan di tengah-tengah genangan air itu, ada jejak kaki kecil. Jejak kaki anak-anak, mengarah ke bawah kolong tempat tidur.

​Aku nggak berani melihat ke bawah kolong. Sumpah, aku nggak berani. Aku langsung lari keluar, menyalakan motor, dan tancap gas tanpa menoleh ke belakang. Aku bahkan meninggalkan satu kardus berisi buku-buku referensiku di sana.

​Sepanjang perjalanan keluar desa, aku merasa ada yang duduk di jok belakang. Motorku terasa berat sekali, kayak lagi bonceng orang dewasa yang badannya besar. Setiap kali aku lewat di bawah pohon atau area gelap, aku merasa ada tangan dingin yang hampir menyentuh tengkukku.

​"Jangan menoleh... jangan menoleh..." aku merapal itu terus di dalam hati.

​Sampai di jalan raya besar yang banyak lampu, beban di motorku tiba-tiba hilang. Rasanya ringan lagi. Aku berhenti sebentar di sebuah pom bensin yang terang benderang. Aku butuh melihat manusia lain. Aku butuh cahaya.

​Aku turun dari motor, gemetar parah. Aku melihat ke arah jok belakang.

​Kosong.

​Tapi di sana, di atas kulit jok yang hitam itu, ada bekas telapak tangan kecil dari lumpur. Dan baunya... bau tanah basah yang amis itu kembali tercium.

​Aku masuk ke toilet pom bensin, mencuci muka berkali-kali. Pas aku mau mengeringkan muka pakai tisu, aku melihat ke cermin.

​Di leherku, ada bekas memar kemerahan berbentuk jari-jari kecil. Tipis sekali, nyaris nggak kelihatan kalau nggak diperhatikan benar-benar. Rasanya nggak sakit, tapi dingin.

​Sampai sekarang, tujuh tahun kemudian, aku sudah tinggal di apartemen lantai 20 di Jakarta. Jauh dari hutan, jauh dari desa, jauh dari pohon bambu. Tapi setiap kali hujan turun sangat deras, aku selalu mendengar suara ketukan pelan di pintu depan.

Tok... tok... tok...

​Dan di bawah celah pintu apartemenku yang modern itu, kadang-kadang aku melihat rembesan air keruh yang membawa aroma tanah basah.

​Aku nggak pernah berani membuka pintu kalau hujan turun. Aku juga nggak pernah lagi tanya "cari apa?" kepada siapapun di jalanan yang sepi. Karena kadang, apa yang hilang memang nggak seharusnya ditemukan kembali.

​Bagaimana menurutmu? Apa kamu pernah merasa ada "sesuatu" yang mengikuti setelah kamu pulang dari tempat asing, atau mau aku coba ulas lebih dalam soal bagian di pom bensin itu?

Rabu, 14 Januari 2026

Pulang ke Rumah yang Salah


​Kopi di gelas plastik ini sudah dingin. Rasanya makin hambar, tapi entah kenapa aku tetap menyeruputnya. Di depanku, jalanan aspal yang sudah pecah-pecah di sana-sini seolah tak ada ujungnya. Aku lupa kapan terakhir kali melihat lampu jalan yang menyala. Semuanya gelap, hanya ada sorot lampu motorku yang membelah kabut tipis di kaki gunung ini.

​Sialan. Harusnya aku tadi tidak usah mampir ke rumah Pak RT dulu. Niatnya sih sopan santun karena aku baru balik lagi ke desa ini setelah sepuluh tahun merantau di Jakarta. Tapi obrolan soal "batas tanah" dan "siapa yang nunggu sekarang" malah bikin kepalaku berat.

​"Dah, mending kamu langsung tidur aja, Man. Besok baru kita beresin surat-suratnya," kata Pak RT tadi. Nadanya biasa, tapi matanya itu... seolah dia ingin bilang sesuatu tapi nggak enak hati.

​Aku memacu motor lebih pelan. Jalanan masuk ke Dusun Girah ini memang nggak pernah berubah. Kanan kiri masih didominasi pohon bambu yang saling bergesekan kalau kena angin. Suaranya itu, lho. Krieeet... kriet... Seperti suara pintu tua yang dibuka paksa. Aku bergidik, membetulkan letak kerah jaket. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.

​Rumah kakek ada di ujung jalan. Satu-satunya rumah yang masih pakai pagar kayu jati rendah. Pas aku sampai depan pagar, aku berhenti sebentar. Bau tanah basah dan melati hutan langsung menyerbu hidung. Aneh. Padahal ini bukan musim bunga.

​Aku turun dari motor, membuka gerbang yang engselnya sudah karatan. Suaranya nyaring sekali di tengah kesunyian malam yang gila ini. Jam di tangan menunjukkan pukul 11.45 malam.

​"Assalamualaikum," ucapku pelan. Hampir seperti bisikan.

​Nggak ada jawaban. Ya jelas, rumah ini kan kosong sejak kakek meninggal dua tahun lalu. Tapi, kenapa perasaanku nggak enak ya? Pas aku colokkan kunci ke lubang pintu depan, kuncinya langsung berputar dengan gampang. Kayak baru saja diminyaki.

Ceklek.

​Pintu terbuka. Gelap gulita. Bau apek khas bangunan lama yang tertutup rapat langsung menyambut. Aku meraba dinding, mencari saklar lampu ruang tamu. Ketemu.

Tik.

​Lampu kuning redup menyala. Kedip-kedip sebentar, lalu stabil. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang. Ruangannya masih sama. Foto kakek yang hitam putih masih nempel di sana, miring sedikit. Kursi rotan yang dulu sering kupakai buat main mobil-mobilan juga masih di pojokan.

​Tapi ada yang beda.

​Di atas meja kayu jati yang bundar itu, ada segelas teh. Masih berasap.

​Aku mematung. Pikiranku langsung lari kemana-mana. Apa ada maling? Tapi nggak mungkin maling bikin teh. Apa Pak RT tadi ke sini dulu? Tapi motornya nggak ada di depan. Aku mendekat, ragu-ragu. Uapnya masih tipis-tipis naik ke udara. Aku menyentuh pinggiran gelasnya.

​Hangat. Sangat hangat.

​"Siapa?" teriakku. Suaraku agak pecah, ketakutan yang kusembunyikan mulai bocor.

​Hening. Cuma ada suara jangkrik di luar yang tiba-tiba berhenti. Jeda itu terasa lama sekali. Aku berjalan menuju dapur, langkahku pelan, sengaja diringankan supaya nggak berisik. Lantai kayu di bawah kakiku sesekali berderit. Kriet... kriet...

​Dapur juga kosong. Kompor gas model lama itu mati. Nggak ada sisa air mendidih di panci. Semuanya kering. Jadi dari mana asal air panas di gelas itu?

​Aku mencoba berpikir logis. Mungkin aku cuma capek. Halusinasi. Ya, pasti itu. Efek kurang tidur gara-gara perjalanan sepuluh jam dari Jakarta. Aku memutuskan untuk langsung ke kamar kakek di lantai dua. Itu satu-satunya kamar yang kasurnya masih layak pakai, menurut kata Pak RT lewat telepon minggu lalu.

​Tangga kayu menuju lantai atas itu sempit. Pas aku naik ke anak tangga ketiga, aku mendengar sesuatu.

Srak... srak...

​Seperti suara kain yang diseret di lantai atas. Aku berhenti. Menahan napas. Suara itu hilang. Aku lanjut naik lagi. Begitu sampai di bordes tangga, aku melihat pintu kamar kakek terbuka sedikit. Sinar lampu dari dalam kamar tumpah ke lorong.

​Lampu? Seingatku aku belum menyalakan lampu atas.

​Tanganku gemetar hebat sekarang. Aku merogoh saku, mencari kunci inggris kecil yang tadi sempat kubawa dari bagasi motor. Minimal ada senjata kalau-kalau ada orang asing di dalam. Aku dorong pintu itu pelan dengan ujung kaki.

Krieeeet...

​Kamar itu rapi. Terlalu rapi untuk rumah yang ditinggal dua tahun. Sprei kasur yang motif bunga-bunga kusam itu terpasang kencang, nggak ada kerutan. Di atas nakas, ada radio transistor tua milik kakek. Dan yang bikin jantungku hampir copot: radionya menyala. Tapi nggak ada suara musik atau orang bicara. Cuma suara kresek-kresek statis yang monoton.

Sshhh... shhh... shh...

​Aku mendekat ke radio itu, bermaksud mematikannya. Tapi saat tanganku mau menyentuh tombol off, suara di radio itu berubah. Suara statisnya menghilang, berganti dengan suara napas. Napas yang berat, tua, dan... basah. Kayak orang yang paru-parunya penuh cairan.

​"Sudah pulang, Man?"

​Suara itu kecil sekali, muncul dari sela-sela suara statis. Tapi aku kenal suara itu. Itu suara kakek. Tapi kakek sudah dikubur dua tahun lalu. Aku sendiri yang ikut nurunin jenazahnya ke liang lahat.

​Aku mundur selangkah. Kakiku menabrak lemari pakaian kayu yang besar. Pintu lemarinya terbuka sendiri. Di dalamnya, nggak ada baju. Cuma ada tumpukan tanah merah yang masih basah. Bau tanahnya kuat sekali, bau makam yang baru digali.

​"Man... haus..."

​Suara itu sekarang bukan dari radio. Suara itu datang dari bawah tempat tidur.

​Aku nggak berani melihat ke bawah. Aku benar-benar mematung. Otakku menyuruh lari, tapi kakiku rasanya kayak dipaku ke lantai. Perlahan, sesuatu muncul dari balik sprei yang menjuntai ke lantai. Sebuah tangan. Kulitnya pucat keabuan, keriput, dan kuku-kukunya penuh tanah hitam.

​Tangan itu merayap naik ke pinggiran kasur. Pelan, sangat pelan. Lalu muncul kepalanya. Rambutnya putih jarang-jarang, kulit wajahnya sebagian sudah melesap, menempel ke tulang pipi. Tapi matanya... matanya masih sama. Teduh, tapi sekarang kosong.

​"Tehnya... kok nggak diminum?" tanya sosok itu. Mulutnya tidak bergerak, tapi suaranya bergema di dalam kepalaku.

​Aku berteriak. Aku nggak peduli lagi soal harga diri atau apa. Aku balik badan, lari tunggang langgang menuruni tangga. Aku sempat terpeleset di anak tangga terakhir, lututku menghantam lantai keras-keras, tapi aku nggak peduli. Rasa sakitnya nggak sebanding dengan rasa dingin yang mengejarku dari belakang.

​Aku sampai di ruang tamu. Gelas teh yang tadi ada di meja sekarang sudah pecah. Airnya tumpah ke lantai, tapi airnya merah. Merah pekat seperti darah. Dan di dinding, foto kakek yang tadi miring sekarang sudah tegak lurus. Wajah kakek di foto itu tidak lagi tersenyum. Matanya melirik ke arahku, mengikuti gerakanku.

​Aku buka pintu depan dengan kasar, lari ke arah motor. Aku nggak sempat pakai helm. Aku starter motor berkali-kali.

Ngeng... ngeng... matot.

​"Ayo dong, ayo!" aku berteriak sambil terus menghentak kick starter.

​Dari jendela lantai dua, aku melihat sosok itu berdiri. Dia cuma diam, melihatku dari balik kaca yang berdebu. Dia melambaikan tangan. Pelan. Kayak orang yang melepas keberangkatan anggota keluarga.

​Motor akhirnya menyala. Aku tancap gas tanpa menoleh lagi. Aku baru berhenti setelah sampai di warung kopi depan gang dusun yang masih ada orang-orang nongkrong. Napas kembang kempis. Keringat dingin mengucur deras meski udara malam itu luar biasa menggigil.

​Orang-orang di warung melihatku dengan tatapan aneh. Salah satu bapak-bapak, namanya Pak Kumis kalau nggak salah, mendekat.

​"Lho, Mas Firman? Kok mukanya pucat amat? Habis dari rumah kakek ya?" tanyanya sambil menyodorkan segelas air putih.

​Aku mengangguk, masih gemetaran. Aku teguk air itu sampai habis. "Iya, Pak. Tapi... ada yang aneh di rumah itu."

​Pak Kumis menghela napas, duduk di sampingku. Dia menyulut rokok klobotnya, membiarkan asapnya membumbung tinggi. "Harusnya jangan malam ini, Man. Malam ini kan tepat seribu harinya kakekmu."

​Aku terdiam. Seribu hari? Aku nggak pernah menghitungnya.

​"Tapi yang aneh bukan itu, Man," lanjut Pak Kumis dengan nada suara yang merendah, hampir berbisik. "Kakekmu itu sebelum meninggal, dia pesan satu hal ke kami semua di sini. Dia bilang, kalau suatu saat cucunya pulang, jangan dibiarkan masuk ke rumah lewat pintu depan."

​"Kenapa, Pak?" tanyaku, tenggorokanku mendadak kering lagi.

​Pak Kumis menatapku dalam-dalam. Ada rasa kasihan di matanya. "Karena kakekmu tahu, rumah itu sudah bukan punya dia lagi. Tanah itu... tanah itu dulu bekas kuburan keluarga yang nggak dipindah dengan benar pas desa ini dibangun."

​"Terus, siapa yang saya lihat tadi?"

​Pak Kumis nggak menjawab. Dia cuma menunjuk ke arah celanaku. Aku menunduk. Di ujung celana jinsku, ada bekas genggaman tangan dari tanah merah yang basah. Dan pas aku raba kantong jaketku, aku menemukan sesuatu yang bukan milikku.

​Sebuah kunci pintu. Tapi ini bukan kunci rumah kakek. Ini kunci kuningan tua yang sudah berkarat, dan ada label kertas kecil yang digantung dengan benang lusuh. Tulisannya sudah agak pudar, tapi masih bisa dibaca: Kamar Bawah.

​Masalahnya, rumah kakek nggak punya kamar bawah tanah.

​Atau mungkin, aku saja yang belum tahu kalau rumah itu punya "lantai" lain yang lebih dalam.

​Aku melihat kembali ke arah jalanan gelap menuju rumah itu. Di kejauhan, di antara pepohonan bambu, aku melihat satu lampu kecil menyala. Redup dan kuning. Persis seperti lampu di ruang tamu tadi.

​Apakah dia masih menungguku di sana? Atau dia sedang mencari jalan keluar lewat kunci yang sekarang ada di tanganku ini?

​Malam itu, aku nggak berani pulang ke rumah siapa pun. Aku duduk di warung itu sampai pagi, memegang kunci berkarat itu dengan tangan yang tak kunjung berhenti gemetar. Dan setiap kali angin bertiup dari arah gunung, aku merasa seperti mendengar bisikan lirih di telingaku: "Tehnya jangan dibuang, Man. Sayang..."

​Gimana, Man? Ceritanya cukup bikin merinding nggak? Kalau kamu mau aku kembangin lagi detail di bagian-bagian tertentunya, atau mau ganti setting tempatnya jadi lebih spesifik, bilang aja ya. Kita bisa ulik bareng biar makin "manusiawi" ceritanya.

Jumat, 09 Januari 2026

Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dingin di Lereng Argopuro

Asap rokok kretekku mengepul, kalah telak oleh kabut yang merayap masuk lewat celah papan kayu dinding dapur. Dinginnya tidak masuk akal. Padahal ini baru jam delapan malam, tapi rasanya tulang keringku seperti sedang diremas-remas es batu. Aku membetulkan letak sarung yang melilit leher, mencoba mencari sisa-sisa hangat dari tungku api yang mulai meredup.
​"Pak, kopinya kok nggak habis-habis?" tanyaku pada Pak Darmo.
​Laki-laki tua itu cuma berdeham. Dia duduk di amben bambu seberangku, matanya menatap kosong ke arah pintu belakang yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Tangannya yang kasar sibuk melinting tembakau. Di depannya, sebuah cangkir seng bermotif lurik hijau masih mengepulkan uap tipis. Padahal, seingatku, dia sudah menuangkan air mendidih itu sejak sejam yang lalu. Logikanya, di suhu serendah ini, kopi harusnya sudah dingin dalam sepuluh menit.
​"Nanti juga habis sendiri, Mas," jawabnya pendek. Suaranya serak, khas orang pegunungan yang jarang bicara.
​Aku mengangguk saja, meski sebenarnya ada rasa mengganjal di ulu hati. Aku baru dua hari di desa ini—sebuah pemukiman kecil di kaki Gunung Argopuro yang bahkan tidak muncul di Google Maps dengan jelas. Kedatanganku ke sini sederhana saja: riset untuk proyek dokumenter tentang jalur-jalur lama yang sudah ditinggalkan. Tapi entah kenapa, suasana di sini terasa berbeda. Bukan seram yang seperti di film-film, tapi lebih ke arah... berat. Seperti ada sesuatu yang menekan udara sampai oksigen terasa tipis.
​"Masnya kalau mau tidur, tidur saja. Kamar di belakang sudah saya bersihkan," kata Pak Darmo tanpa menoleh.
​"Enggak apa-apa, Pak. Masih nunggu kantuk. Di sini kalau malam memang sepi begini ya?"
​Pak Darmo berhenti melinting. Dia menatapku sebentar, tatapan yang sulit diartikan. "Sepi itu bagus, Mas. Berarti mereka lagi nggak pengen diganggu."
​Aku tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Mereka siapa, Pak? Tetangga?"
​Dia tidak menjawab. Dia malah meraih cangkir kopinya, bukan untuk diminum, tapi hanya digeser beberapa sentimeter ke arah kanan. Gerakan itu terasa sangat mekanis, seperti sebuah ritual yang sudah dilakukan ribuan kali. Aku memperhatikan uap kopi itu lagi. Masih mengepul. Konsisten. Seolah-olah ada kompor tak kasat mata di bawah cangkir itu.
​Malam semakin larut. Aku memutuskan masuk ke kamar karena suhu sepertinya merosot drastis. Kamar yang diberikan Pak Darmo sangat sederhana. Kasur kapuk yang agak apek, satu meja kayu kecil, dan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah hutan pinus.
​Aku berbaring, mencoba memejamkan mata. Namun, telingaku justru menjadi sangat sensitif. Aku mendengar suara langkah kaki di luar. Pelan. Srek... srek... srek... Seperti suara orang menyeret kain basah di atas tanah. Aku bangkit, mengintip dari celah jendela.
​Tidak ada siapa-siapa. Hanya barisan pohon pinus yang bergoyang pelan ditiup angin.
​Tapi kemudian aku mendengarnya lagi. Kali ini dari arah dapur. Suara denting sendok beradu dengan cangkir seng. Ting. Ting. Ting. Ritmenya sangat teratur. Aku mengerutkan kening. Apakah Pak Darmo belum tidur? Aku melirik jam tangan. Pukul 01.15 pagi.
​Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku keluar kamar dengan kaki telanjang, berusaha tidak membuat suara di atas lantai kayu yang berderit. Sampai di ambang pintu dapur, aku mematung.
​Pak Darmo masih duduk di posisi yang sama. Persis. Dia tidak bergerak sedikit pun. Rokok kreteknya yang tadi pendek, sekarang utuh kembali di tangannya, seolah baru saja disulut. Dan yang membuat tengkukku meremang adalah cangkir kopi itu. Uapnya jauh lebih tebal sekarang, hampir seperti asap kebakaran kecil yang membumbung ke langit-langit.
​"Pak?" bisikku.
​Beliau tidak menoleh. Tapi dia bicara. "Mas, jangan berdiri di situ. Itu jalannya."
​"Jalan siapa, Pak?"
​Tepat setelah aku bertanya, angin kencang tiba-tiba menghantam rumah, membuat pintu belakang yang terbuka sedikit tadi terbanting keras. BRAK! Lampu minyak di atas meja mati seketika.
​Dalam kegelapan total itu, aku merasakan sesuatu melewati samping badanku. Dingin. Bukan dingin udara, tapi dingin yang hampa. Seperti ada bongkahan es besar yang lewat tapi tidak menyentuh kulitku. Bau tanah basah dan bunga melati yang sangat menyengat memenuhi ruangan. Aku menahan napas, tanganku gemetar mencari pegangan pada dinding kayu.
​"Sudah... sudah lewat," suara Pak Darmo terdengar tenang di tengah kegelapan.
​Aku mendengar bunyi korek api digesek. Nyala api kecil muncul, lalu Pak Darmo menyalakan kembali lampu minyaknya. Aku melihatnya dengan napas tersengal. Dia tampak biasa saja, malah sekarang dia benar-benar meminum kopi dari cangkir itu.
​"Duduk dulu, Mas. Minum air putih," katanya sambil menunjuk gelas di atas meja.
​Aku duduk dengan lemas. Jantungku masih berdegup kencang. "Tadi itu apa, Pak?"
​Pak Darmo menghela napas panjang. Dia meletakkan cangkirnya yang anehnya sekarang benar-benar kosong. "Di sini, batas itu tipis, Mas. Kadang mereka cuma mau lewat. Rumah ini kebetulan dibangun di atas jalur yang mereka pakai sejak dulu. Makanya pintu belakang itu nggak boleh ditutup rapat kalau malam-malam tertentu."
​"Kenapa Bapak nggak pindah saja?" tanyaku spontan.
​Dia tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat lelah. "Pindah ke mana? Saya sudah di sini sebelum Mas lahir. Kami sudah punya kesepakatan. Saya kasih mereka 'jalan' dan sedikit kehangatan dari uap kopi, mereka nggak akan ganggu saya."
​Aku terdiam. Penjelasan itu terasa sangat tidak masuk akal bagi logikaku sebagai orang kota. Tapi apa yang baru saja kurasakan—hawa dingin yang lewat itu—nyata. Sangat nyata.
​"Tapi Pak, kopi tadi... kenapa uapnya nggak berhenti-berhenti?"
​Pak Darmo menatap cangkirnya yang kosong. "Mereka suka baunya. Selama uapnya masih ada, mereka tahu saya menyambut. Kalau kopinya dingin sebelum mereka lewat, itu artinya saya sudah nggak mau berteman lagi. Dan percayalah, Mas, kamu nggak mau tahu apa yang terjadi kalau mereka merasa nggak disambut."
​Sisa malam itu aku habiskan dengan duduk di dapur bersama Pak Darmo. Kami tidak banyak bicara. Aku terlalu takut untuk kembali ke kamar sendirian, dan Pak Darmo sepertinya tidak keberatan ditemani.
​Menjelang subuh, kabut mulai menipis. Cahaya kelabu mulai menyelinap masuk. Aku merasa sedikit lebih tenang, meski rasa lelah mulai menyerang. Pak Darmo berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku.
​"Saya mau ke ladang sebentar. Mas kalau mau pergi sekarang, silakan. Tapi jangan lewat jalur setapak yang di sebelah pohon beringin besar itu ya. Ambil jalur yang agak memutar saja."
​Aku mengangguk cepat. Aku memang berencana pergi pagi ini juga. Riset ini bisa kulanjutkan di desa lain yang mungkin lebih... normal.
​Saat aku sedang berkemas di kamar, aku teringat sesuatu. Tasku tertinggal di dapur dekat amben tempat duduk Pak Darmo tadi. Aku kembali ke sana. Dapur itu kosong, Pak Darmo sudah berangkat. Aku mengambil tasku, tapi mataku terpaku pada cangkir lurik hijau di atas meja.
​Iseng, aku menyentuh pinggiran cangkir itu.
​Seketika aku menarik tanganku kembali. Cangkir itu panas. Sangat panas, seolah baru saja diangkat dari bara api. Padahal sudah tidak ada uap yang keluar. Dan yang lebih aneh lagi, saat aku melongok ke dalamnya, di dasar cangkir itu bukan ampas kopi yang kutemukan.
​Ada gumpalan rambut hitam panjang yang terendam sedikit sisa cairan hitam pekat.
​Aku merasakan mual yang luar biasa. Tanpa pikir panjang, aku menyambar tas dan berlari keluar rumah. Aku tidak pamit, tidak peduli pada sopan santun lagi. Aku terus berlari mengikuti jalan setapak yang ditunjukkan Pak Darmo kemarin saat aku datang, menghindari beringin besar yang dia peringatkan tadi.
​Setelah berjalan sekitar dua jam, aku sampai di desa bawah yang lebih ramai. Aku berhenti di sebuah warung kecil untuk mengatur napas dan mencari tumpangan ke kota. Ibu pemilik warung menatapku dengan heran.
​"Dari atas, Mas?" tanyanya sambil menyodorkan segelas teh hangat.
​"Iya, Bu. Dari rumah Pak Darmo."
​Tiba-tiba suasana warung jadi sunyi. Dua orang bapak-bapak yang sedang merokok langsung menoleh ke arahku. Ibu warung itu meletakkan tekonya dengan pelan.
​"Pak Darmo siapa ya, Mas?"
​"Itu, yang rumahnya paling atas, dekat hutan pinus. Laki-laki tua yang suka pakai sarung kotak-kotak."
​Ibu itu saling pandang dengan bapak-bapak di sudut warung. "Mas... rumah di atas sana itu sudah kosong hampir lima tahun. Pak Darmo yang dulu tinggal di sana sudah meninggal. Jatuh ke jurang waktu mau ambil air."
​Duniaku rasanya berputar. "Nggak mungkin, Bu. Saya menginap di sana dua malam. Tadi pagi saya masih bicara sama dia. Dia bahkan sempat buatkan saya kopi—meski saya nggak minum."
​Bapak-bapak yang memakai caping berdiri dan mendekatiku. "Mas, beneran ketemu Pak Darmo? Dia pesan apa?"
​"Dia... dia cuma bilang jangan tutup pintu belakang karena itu 'jalan' mereka," jawabku dengan suara bergetar.
​Bapak itu menghela napas berat, wajahnya tampak prihatin. "Syukurlah Mas masih bisa keluar. Pak Darmo itu dulu memang penjaga 'jalur'. Tapi sejak dia meninggal, nggak ada lagi yang kasih 'suguhan' di sana. Mungkin dia balik lagi karena ngerasa ada tamu yang butuh perlindungan."
​Aku terdiam seribu bahasa. Tanganku meraba saku jaket, mencari ponselku. Aku teringat sempat mengambil foto suasana dapur semalam saat Pak Darmo sedang melinting rokok, niatnya untuk dokumentasi riset.
​Dengan tangan gemetar, kubuka galeri foto.
​Foto itu ada. Diambil pukul 22.12. Gambarnya agak buram karena minim cahaya. Di sana terlihat amben bambu, meja kayu, dan cangkir lurik hijau yang mengepulkan asap sangat tebal. Tapi di tempat Pak Darmo seharusnya duduk, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah bayangan hitam panjang yang berdiri tepat di belakang cangkir itu, tangannya yang kurus seolah-olah sedang memegang sebatang rokok yang menyala.
​Dan yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel adalah pintu belakang di foto itu. Pintu itu tidak hanya terbuka sedikit. Di balik kegelapan pintu yang terbuka itu, terlihat belasan pasang mata kecil berwarna merah yang sedang mengintip masuk ke dalam dapur.
​"Mas? Mas nggak apa-apa?" suara ibu warung membuyarkan lamunanku.
​Aku segera mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke saku. Aku tidak sanggup melihatnya lebih lama lagi. Aku meminum tehku sampai habis dalam satu tegukan, meski lidahku melepuh karena panas.
​"Saya nggak apa-apa, Bu. Cuma... kopi di sini rasanya beda ya," kataku asal.
​"Beda gimana, Mas?"
​"Enggak... lebih cepat dingin saja."
​Aku segera membayar dan pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pulang ke kota, aku terus memikirkan satu hal. Jika Pak Darmo sudah meninggal lima tahun lalu, siapa yang tadi pagi berpesan padaku untuk tidak melewati jalur beringin besar? Dan siapa sebenarnya yang "menjamu" siapa di rumah itu?
​Sampai sekarang, setiap kali aku mencium bau kopi hitam yang mengepul kuat, aku selalu teringat dapur itu. Aku selalu teringat cangkir lurik hijau itu. Dan aku selalu memastikan, di mana pun aku berada, untuk tidak membiarkan pintu belakang terbuka saat malam tiba.
​Beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan tetap menjadi rahasia gunung. Karena terkadang, penjelasan yang masuk akal justru jauh lebih menakutkan daripada yang tidak masuk akal sama sekali.
​Bagaimana menurutmu? Apakah kamu pernah merasakan hawa dingin yang tidak berasal dari angin? Mungkin saja, sesuatu baru saja lewat di sampingmu saat kamu membaca ini.

Rabu, 07 Januari 2026

Jendela yang Tak Pernah Benar-benar Tertutup

Halo semuanya. Aku sebenarnya ragu ingin menulis ini atau tidak. Biasanya blog ini isinya cuma ulasan buku atau resep kopi, tapi kejadian minggu lalu di apartemen baruku benar-benar mengubah cara pandangku soal "logika".
​Aku ingin membagikannya di sini, bukan untuk menakut-nakuti, tapi mungkin karena aku butuh wadah untuk melepaskan beban pikiran ini.
​Awal yang Begitu Normal
​Namaku Aris. Dua bulan lalu, aku pindah ke sebuah studio kecil di lantai empat sebuah bangunan tua di Jakarta Pusat. Harganya murah, jendelanya besar, dan cahayanya bagus untuk membaca. Sebagai orang yang sangat rasional dan skeptis, aku tidak peduli dengan sejarah gedung ini.
​Minggu pertama berjalan normal. Rutinitasku biasa saja: bangun, menyeduh kopi, bekerja di depan laptop, lalu tidur. Aku selalu memastikan jendela terkunci sebelum tidur karena aku benci suara bising jalanan.
​Gangguan Kecil yang Terabaikan
​Semuanya dimulai pada Selasa malam. Aku terbangun sekitar jam 3 pagi karena merasa ada hembusan angin dingin di tengkukku. Saat aku membuka mata, jendela besarku terbuka lebar.
​Aku mengernyit. Mungkin aku lupa menguncinya? pikirku. Aku menutupnya kembali, memastikan slotnya berbunyi klik, lalu kembali tidur.
​Besoknya, hal serupa terjadi lagi. Tapi kali ini bukan cuma jendela. Kursi kerjaku, yang tadinya menghadap meja, kini berputar 180 derajat menghadap ke arah tempat tidurku. Seolah-olah ada seseorang yang duduk di sana sepanjang malam, memperhatikanku tidur.
​Aku mulai merasa gelisah. Aku mencoba mencari penjelasan logis: mungkin engsel jendelanya sudah dol, atau mungkin aku sedang sleepwalking karena stres kerja?
​Puncak Ketegangan: "Dia" Tidak Suka Diabaikan
​Puncaknya terjadi pada Jumat malam. Hujan deras mengguyur Jakarta. Aku sengaja mengganjal jendela dengan tumpukan buku berat dan mengunci pintu kamar mandi. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa semua ini hanya imajinasiku.
​Sekitar jam 02:45, aku terbangun bukan karena suara, tapi karena sunyi yang sangat pekat. Suara hujan di luar tiba-tiba hilang, seolah-olah diredam oleh dinding kedap suara. Aku mencoba meraih ponsel di nakas, tapi tanganku terasa kaku. Saat itulah aku melihatnya.
​Di sudut ruangan, dekat jendela yang kini kembali terbuka lebar meski sudah diganjal buku, berdiri sebuah bayangan. Itu bukan sekadar bayangan karena ia lebih gelap dari kegelapan malam itu sendiri. Bentuknya tinggi, kurus, dengan bahu yang merosot aneh.
​Yang membuat jantungku seakan berhenti adalah suaranya. Bukan suara teriakan, melainkan suara bisikan yang sangat dekat di telingaku, padahal sosok itu berdiri di pojok ruangan:
​"Kau tidak akan pernah bisa menutupnya untukku."
​Detik itu juga, seluruh buku yang mengganjal jendela terlempar ke arah tempat tidurku. Aku hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, meringkuk, dan merapal doa apa pun yang aku ingat sampai aku kehilangan kesadaran karena saking takutnya.
​Setelah Badai Berlalu
​Pagi harinya, aku terbangun dengan ruangan yang berantakan. Buku-buku berserakan di lantai, dan jendela... jendela itu masih terbuka, berayun pelan tertiup angin pagi yang lembap.
​Aku tidak menunggu lama. Hari itu juga aku mengemas tas, menginap di rumah teman, dan seminggu kemudian aku memutuskan untuk membatalkan kontrak sewa. Aku kehilangan uang deposit, tapi aku tidak peduli. Keamanan mental jauh lebih mahal.
​Refleksi: Nyata atau Halusinasi?
​Sekarang, setelah aku berada di tempat yang lebih terang dan ramai, aku sering merenung. Apakah itu benar-benar makhluk halus?
​Sudut Pandang Psikologis: Seorang teman psikolog bilang itu mungkin Sleep Paralysis (ketindihan) yang parah akibat kelelahan pindah rumah. Otakku menciptakan proyeksi ketakutan dalam bentuk bayangan hitam.
​Sudut Pandang Realitas: Tapi, bagaimana dengan buku-buku yang terlempar? Bagaimana dengan kunci jendela yang selalu terbuka meski sudah dipastikan terkunci?
​Sampai sekarang aku tidak punya jawaban pasti. Namun satu hal yang pasti: sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi meremehkan perasaan "tidak nyaman" saat memasuki sebuah ruangan baru. Terkadang, logika memang punya batasnya sendiri.
​Pernahkah kalian mengalami hal serupa di tempat baru? Ceritakan di kolom komentar ya, aku ingin tahu kalau aku tidak sendirian dalam hal ini.

Senin, 05 Januari 2026

Suara Tangisan di Malam Jumat: Misteri Rumah Kosong di Bandung yang Tak Pernah Terjual

Udara Bandung Utara selalu punya cara untuk menusuk tulang, namun malam itu, dinginnya terasa berbeda bagi Aris. Sebagai agen properti senior, ia sudah terbiasa menghadapi bangunan tua yang pengap. Namun, ketika kunci kuningan itu berputar di lubang pintu sebuah rumah bergaya kolonial modern di kawasan Dago, tangannya sedikit gemetar.
​"Hanya rumah kosong, Ris. Komisi besar menantimu," bisiknya menenangkan diri.
​Begitu pintu terbuka, bau apek debu bertahun-tahun menyeruak, bercampur dengan aroma samar melati yang layu. Senter di tangannya membelah kegelapan, menyoroti furnitur yang ditutupi kain putih seperti deretan nisan di dalam ruang tamu. Saat ia melangkah masuk, suara lantai kayu yang berderit seolah sedang memprotes kehadirannya. Tiba-tiba, Aris mematung. Dari arah lantai dua, terdengar suara isakan halus. Rendah, tersedat, dan sangat pilu.
​"Halo? Ada orang di sana?" seru Aris. Suaranya bergema, namun isakan itu justru berubah menjadi tangisan yang lebih jelas—suara seorang wanita yang seolah sedang meratapi sesuatu yang hilang selamanya. Aris tidak menunggu lama. Ia keluar, mengunci pintu dengan tangan gemetar, dan bersumpah tidak akan pernah kembali ke sana sendirian.
​Jejak Tragedi di Balik Dinding 1970-an
​Rumah itu berdiri angkuh di atas lahan seluas 800 meter persegi. Dibangun pada pertengahan 1970-an, arsitekturnya mencerminkan kemewahan masa lalu dengan pilar-pilar beton yang kokoh dan jendela kaca patri yang lebar. Pada masanya, rumah ini adalah simbol kesuksesan keluarga Pratama, seorang pengusaha tekstil ternama di Bandung.
​Namun, kejayaan itu runtuh dalam satu malam di tahun 1985. Tragedi keluarga yang kelam menyelimuti rumah tersebut. Konon, putri bungsu keluarga itu ditemukan tak bernyawa di kamar tidurnya pada sebuah malam Jumat Kliwon. Penyebab pastinya tak pernah benar-benar terungkap—beberapa menyebut karena sakit mendadak, yang lain berbisik tentang patah hati yang berujung tragis.
​Tak lama setelah pemakaman sang putri, keluarga Pratama meninggalkan rumah itu begitu saja. Mereka pergi dengan terburu-buru, meninggalkan sebagian besar perabotan dan kenangan pahit di dalamnya. Sejak saat itu, rumah tersebut berpindah-pindah tangan melalui berbagai agen properti, namun tak pernah ada satu pun pemilik baru yang bertahan lebih dari satu bulan.
​Kesaksian dari Balik Pagar Karat
​Keangkeran rumah ini bukan sekadar isapan jempol bagi warga sekitar. Pak Maman, seorang tukang pos yang sudah bertugas di daerah tersebut selama dua dekade, selalu mempercepat langkahnya setiap melewati pagar besi yang berkarat itu.
​"Saya pernah melihat seorang wanita berdiri di balkon lantai dua. Bajunya putih, rambutnya panjang menutupi wajah. Awalnya saya pikir itu calon pembeli, tapi kemudian dia menghilang begitu saja saat saya berkedip," tutur Pak Maman dengan mata yang menerawang.
​Tetangga sebelah rumah, Ibu Ratna, bahkan punya cerita yang lebih spesifik. "Setiap malam Jumat, tepat tengah malam, suara tangisan itu pasti terdengar. Kadang pelan, kadang seperti orang yang sedang meronta. Kami sudah terbiasa, tapi tetap saja bulu kuduk merinding setiap kali suaranya terbawa angin sampai ke ruang tamu kami."
​Bahkan, Kang Dadang, seorang praktisi spiritual lokal yang sempat diminta warga untuk "membersihkan" area tersebut, hanya menggelengkan kepala.
​"Ada energi kesedihan yang sangat pekat di sana. Bukan sekadar makhluk halus yang numpang lewat, tapi residu emosi yang terperangkap. Dia tidak ingin disingkirkan, dia hanya ingin didengar," ungkapnya misterius.
​Malam Terakhir Tim Renovasi
​Puncak kengerian rumah ini terjadi tiga tahun lalu, saat seorang investor nekat membeli rumah itu dengan harga miring dan berencana menjadikannya butik mewah. Ia menyewa tim renovasi berjumlah lima orang untuk bekerja lembur agar target pembukaan tercapai.
​Sandi, kepala tim renovasi, menceritakan pengalaman traumatis yang membuat mereka lari terbirit-birit pada pukul dua pagi.
​"Malam itu kami sedang mengecat ulang ruang tengah. Suasananya sepi, hanya suara radio kecil kami. Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis," kenang Sandi. "Lalu, kaleng cat yang tadinya tertutup rapat di pojok ruangan terguling sendiri. Cairan merahnya membentuk jejak kaki kecil menuju tangga."
​Salah satu rekannya, memanjat tangga untuk memeriksa lampu yang berkedip. Saat berada di atas, ia berteriak histeris. Ia mengaku melihat sesosok wanita meringkuk di sudut plafon dengan mata merah yang melotot ke arahnya. Detik berikutnya, suara tangisan yang memekakkan telinga meledak dari seluruh penjuru rumah. Tanpa pikir panjang, kelima pria perkasa itu meninggalkan peralatan mereka dan melompat pagar, tak pernah mau kembali bahkan untuk mengambil upah mereka.
​Logika vs. Mistis: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
​Bagi mereka yang skeptis, misteri rumah Dago ini selalu punya penjelasan rasional. Para ahli struktur bangunan berargumen bahwa "suara tangisan" tersebut bisa jadi adalah fenomena akustik bangunan.
​Terowongan Angin: Karena lokasinya yang berada di perbukitan, angin kencang yang masuk melalui celah-celah jendela tua atau pipa saluran air yang kosong dapat menghasilkan suara siulan frekuensi rendah yang terdengar seperti rintihan manusia.
​Efek Pareidolia & Sugesti: Secara psikologis, manusia cenderung mencari pola yang dikenal (seperti suara manusia) dari kebisingan acak. Begitu seseorang mendengar rumor tentang "tangisan", otaknya akan menerjemahkan suara gesekan dahan pohon atau derit kayu sebagai suara tangis.
​Namun, penjelasan ini seringkali patah oleh satu fakta sederhana: mengapa suhu ruangan bisa berubah drastis? Dan mengapa jejak kaki itu muncul di atas cat yang masih basah?
​Rumah yang Menunggu dalam Diam
​Hingga hari ini, rumah itu masih berdiri tegak di salah satu sudut premium kota Bandung. Papan "DIJUAL" yang terpasang di pagarnya sudah memudar, warnanya kuning kusam dimakan cuaca. Tanaman merambat kini hampir menutupi seluruh fasad depan, membuatnya tampak seperti raksasa tidur yang diselimuti lumut.
​Harga yang ditawarkan sangat jauh di bawah nilai pasar tanah di kawasan itu. Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan bagi siapa saja yang hanya melihat dari sisi bisnis. Namun, setiap kali calon pembeli datang dan menginjakkan kaki di serambi, mereka selalu merasa seolah sedang diawasi oleh ribuan mata dari balik kegelapan jendela lantai dua.
​Bandung memang punya sejuta cerita, tapi rumah di Dago ini tetap menjadi salah satu misteri paling pekat yang tak terpecahkan. Suara tangisan itu masih terdengar setiap malam Jumat, menjadi pengingat bahwa ada luka yang tak bisa disembuhkan oleh waktu, dan ada rumah yang lebih memilih untuk tetap kosong daripada dihuni oleh mereka yang tak mengerti duka di dalamnya.
​Bagaimana dengan Anda? Dengan harga yang sangat murah dan lokasi yang strategis, apakah Anda cukup berani untuk menandatangani kontrak pembelinya?